News Update :

KABAR DPC

KIPRAH BIDPUAN

KOLOM

DUNIA ISLAM

SUPLEMEN RUHIYAH

Photo Album


Created with flickr slideshow.
Tampilkan postingan dengan label kolom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kolom. Tampilkan semua postingan

Kita Memiliki Apa Yang Negara Maju Miliki

Sabtu, 12 Mei 2012

Mukhamad Najib
Mahasiswa Program Doktoral Universitas Tokyo




Salju turun dipergantian musim yang seharusnya sudah selesai. 4 maret 2012, dipinggir jendela kamar lantai dua, tepatnya di Radstock 15, saya ditemani buliran putih yang beterbangan, menyambar-nyambar kaca jendela yang melahirkan detak bunyi tak beraturan. Di bawah sana, anak-anak berlarian menembus hawa dingin sambil tertawa bersuka ria.


Di negara maju seperti Inggris, tidak sedikit rakyat terlena dengan kebebasan & kesejahteraan yang berpotensi membunuh daya juang anak-anak mereka. Anak-anak yang besar & bertemu dengan kondisi serba mudah dan serba boleh tidak merasa perlu harus bersusah payah menghadapi tantangan, tidak merasa perlu harus mengeluarkan semua daya untuk meraih apa yang diinginkan. Karena semua sudah tersedia.
Makanan, pakaian, kesehatan, perumahan, pendidikan bisa didapatkan mudah. Mereka merasa “toh nganggur pun akan mendapat tunjangan dari negara”. Jangan kita bayangkan anak-anak di negara maju selalu lebih unggul & kompetitif dari anak-anak di negara berkembang. 

Beruntung, kemajuan yang mereka miliki hari ini telah menjadi daya tarik manusia-manusia unggul dari berbagai belahan dunia untuk datang. Manusia-manusia unggul dari berbagai negara inilah yang terus menopang stabilitas kemajuan mereka. Sangat berbeda dengan negara-negara Arab, Malaysia, atau Hongkong yang banyak menyerap tenaga-tenaga kasar. Negara-negara maju hanya mau mereka yang berkeahlian. 

Negara seperti Inggris, Jepang, Canada, Amerika tidak menerima pendatang tanpa keahlian khusus. Ilmuwan-ilmuwan hebat dari berbagai negara, termasuk dari negara berkembang banyak mengajar di negara maju, professional-professional terbaik, enginer-enginer terbaik, perawat-perawat terbaik dari negara-negara berkembang memilih bekerja di negara maju. Jadilah negara maju kumpulan dari berbagai keahlian terbaik yang datang dari berbagai negara.

Dalam hal pendidikan, tidak sedikit manusia-manusia unggul dari berbagai negara datang ke Inggris untuk belajar dan rela membayar lebih mahal untuk hal yang sebenarnya boleh jadi bisa mereka dapatkan lebih murah dan lebih baik di negeri mereka. Mahasiswa internasional harus membayar biaya SPP secara penuh sementara mahasiswa Inggris & negara anggota European Union hanya membayar 30% biaya SPP.
Saya bertemu dengan mahasiswa Indonesia , dia bilang “saya datang ke oxford setelah lulus SMA. Untuk masuk Universitas kita harus ikut kursus mata pelajaran yang menjadi prasyarat jurusan yang kita tuju. Saya ambil matematika, fisika, kimia, biologi. Dengan mudah saya mendapat A di semua pelajaran, karena pelajaran di Indonesia sudah lebih advance, lebih sulit. Universitas pun memanggil saya tanpa tes.” Seorang dosen di salah satu universitas di London mengatakan kepada saya,”setiap 2 orang mahasiswa internasional sebenarnya membayar 1 orang mahasiswa lokal. Jadi kalau mahasiswa internasional kuliah di sini dengan biaya sendiri atau biaya negaranya, mereka telah mensubsidi penduduk lokal!”.

Dua obrolan di atas menarik bukan? Dimana menariknya? Pertama, di Indonesia siswa belajar lebih maju dari siswa di negara maju. Menariknya atau anehnya kita mau membayar mahal untuk pendidikan yang tidak lebih maju dari di negara kita. Kedua, ini lebih menarik lagi, ternyata negara berkembang mensubsidi pendidikan negara maju!.

Seringkali kita terkecoh oleh promosi “World Class University” yang katanya memberikan kualitas pendidikan dan fasilitas yang sangat baik. Memang mereka telah mampu membangun system dan budaya akademik yang baik yang mungkin belum dimiliki negara berkembang. Seperti budaya meneliti, budaya menulis, budaya diskusi, semua sudah terbangun secara sistematis yang membuat orang yang masuk ke dalam system tersebut akan mengikuti cara kerja system yang telah terbentuk.

Tapi system dan fasilitas tersebut saat ini sebenarnya di “langgeng”kan justru oleh para pendatang yang mau membayar mahal dengan uangnya maupun ke”jeniusan” nya. Seperti yang saya sebutkan tadi, setiap 2 mahasiswa internasional membiayai satu mahasiswa lokal. Mahasiswa internasional dari berbagai negara membayar lebih mahal dan biaya ini yang mereka gunakan untuk memperbaiki fasilitas layanan akademik mereka. Bahkan di beberapa universitas di London berdiri bangunan-bangunan megah yang merupakan sponsor dari negara-negara kaya di timur tengah.

Memang beasiswa tersedia untuk mahasiswa internasional, tapi dengan syarat mereka memiliki “kejeniusan” dalam hal tertentu yang sekiranya mereka butuhkan, seperti “kejeniusan” dalam hal akademik atau “kejeniusan” dalam hal sosial, seperti para aktifis. 

Mereka yang memiliki “kejeniusan” akademik akan menghasilkan penelitian-penelitian dan publikasi berstandar internasional yang membawa nama baik universitas mereka di Inggris dan kelak mendongkrak kualitas profil alumni dengan aktivitas akademik yang mumpuni, dan ini berimbas pada persepsi public pada kualitas universitas. Sementara mereka yang memiliki “kejeniusan” dalam bidang sosial kelak diharapkan setelah lulus mereka bisa menjadi opinion leader di negaranya masing-masing. 

Jadi silahkan tinggal anda pilih, datang dengan uang sendiri atau uang dari negara anda untuk mensubsidi mahasiswa lokal atau datang dengan “kejeniuasan” yang karenanya anda akan diberi beasiswa. Dengan kedua infrastuktur ini, dana & “kejeniusan” yang datang dari multinegara, maka tidak mengherankan mereka mampu menjaga “superioritas” system pendidikan mereka. Bukan oleh sumberdaya lokal mereka sendiri, tapi justru lebih banyak pasokan dari negara berkembang, dari kejeniusan anak-anak Pakistan, China, India, Indonesia, Malaysia, dan negara berkembang lainnya dan dari dana orang tua mereka atau negara mereka.
Saya yakin, kita memiliki semua kemampuan yang dimiliki oleh negara maju. Namun seringkali kita kurang percaya pada diri sendiri, kurang percaya pada anak bangsa sendiri, kurang mampu mengelola asset-asset bangsa sendiri untuk sebesar-besarnya kemanfaatan kita sendiri. Jika semua negara berkembang mampu mengarahkan sumberdaya keuangan dan “kejeniusan” anak-anak bangsanya untuk membangun system pendidikannya masing-masing, saya yakin negara seperti Inggris ini tidak lama lagi akan berada di ujung senja.

Salju sudah berhenti…sayapun harus berhenti…karena senja sebentar lagi berganti.
(www.eramuslim.com)


Wahai Pemimpin, Cintailah Rakyatmu Bukan Jabatanmu!

Jumat, 04 Mei 2012

BELAKANGAN ini wajah bangsa Indonesia kembali diwarnai aksi demonstrasi penolakan kenaikan harga BBM. Dalam aksi demo  yang berlangsung di berbagai kota di tanah air itu sebagian berjalan ricuh. Demonstran dan pihak keamanan terlibat saling lempar batu yang akhirnya dibalas dengan tembakan dan kejar-kejaran di antara keduanya.

Pemandangan seperti itu sebenarnya sudah biasa di Indonesia. Akan tetapi kali ini terlihat sangat istimewa karena boleh dikatakan cukup kompak dan dalam rangka satu tujuan utama, yaitu menolak rencana pemerintah menaikkan harga BBM. Sebuah aksi yang secara langsung melibatkan emosi dua unsur penting negara, yaitu rakyat dengan pejabat.

Pemerintah dengan kekuatan bersenjata nampaknya tetap tak berubah pikiran. Hal ini bisa dilihat dari kesigapan pemerintah dengan menurunkan kekuatan penuh aparat keamanan untuk mengontrol para demonstran.

Dalam logika pejabat, dalam hal ini pemerintah, menaikkan harga BBM  dipandang sebagai keputusan yang harus dilaksanakan walaupun seluruh rakyat Indonesia harus menjerit keras karena ancaman kemiskinan yang menganga di depan mata. Pemerintah seolah tak punya telinga dengan keluh kesah rakyatnya sendiri.

Sikap pemimpin (pemerintah) yang seperti ini akan menimbulkan aksi yang lebih keras lagi dari rakyat. Sebab rakyat dalam hal ini tidak diperhtiungkan dan tidak diperhatikan dengan baik. Bahkan rakyat akan merasa selalu dikorbankan untuk kepentingan-
kepentingan kekuasaan.

Siapapun yang menjadi pemimpin, jika sikap dan perilaku terhadap rakyatnya justru tidak bersahabat pasti akan menuai banyak protes bahkan kebencian. Dan, tidak satu pun pemimpin di dunia ini yang mengabaikan rakyatnya sendiri, kecuali telah kehilangan hati nurani. Padahal makna pemimpin itu sendiri sejatinya adalah pelayan bukan juragan.
Tetapi bagaimanapun harus diakui, inilah produk demokrasi. Sebuah produk pandangan hidup yang melahirkan sistem tata negara yang menegasikan ilmu dan otoritas, termasuk otoritas nabi dan tentu otoritas Tuhan atau wahyu.

Dari sinilah kita akan temui jawaban mengapa demokrasi dan para pemimpin yang dihasilkan oleh sistem ini sebagian besar buta dan tuli terhadap aspirasi dan nasib rakyatnya. Dan nampak begitu beringas manakala jabatannya terasa digoyang, serta melakukan segala cara untuk mendapatkan jabatan dan mempertahankannya selama-lamanya.


Jabatan yang benar-benar peduli yang lemah

Pandangan yang keliru terhadap jabatan, menjadikan sebagian orang saat ini sering asal pilih pemimpin. Asal bisa dikendalikan untuk memenuhi hasrat politiknya, seseorang ditunjuk sebagai ini, sebagai itu. Sebaliknya siapa yang dirasa tidak potensial secara mterial akan segera ditinggalkan.

Dalam Islam tidaklah seperti itu. Seorang pemimpin harus benar-benar selektif dalam memilih teman dekat, terkhusus kepada orang-orang yang akan diajak bekerjasama dalam mensukseskan kepemimpinannya, terutama dalam upaya mensejahterakan rakyat.

Akan fatal akibatnya jika seorang pemimpin menyerahkan jabatan kepada orang yang belum jelas kualitas imannya. Apalagi menyerahkan jabatan hanya karena hubungan kekeluargaan, kekerabatan, ataupun hal-hal yang tidak didasarkan pada ilmu dan keimanan.

Tirulah cara sahabat Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wassallam dalam memilih rekan dekat untuk mengisi jabatan umat. Sebelum memilih siapa yang layak mengisi jabatan strategis di masa kepemimpinannya, Khalifah Umar bin Khattab melakukan penelitian (Fit and Propertes) terhadap kualitas sahabat yang akan dipilihnya. Tentu tidak seperti yang dilakukan oleh kebanyakan pemimpin kontemporer yang hanya menggunakan teknik wawancara, uji kognitif dan penandatanganan surat komitmen.

Muhammad Syadid dalam bukunya, “Minhaju al-Qur’an fi al-Tarbiyah” mengisahkan cara Umar bin Khattab dalam menilai kualitas keimanan orang yang akan dipilih mendampinginya dalam memimpin umat.

Kala itu Umar bin Khattab mengujinya dengan memberikan sekantong uang dinar. Dari Sa’id bin Yarbu’ bin Malik, ia bercerita. Ketika Umar bin Khattab memegang uang sebanyak 400 dinar dalam sebuah kantong, beliau berkata kepada pelayannya; “Bawalah ini kepada Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, lalu tungguhlah beberapa saat, lihatlah apa yang diperbuatnya dengan uang ini!”

Pelayan pun berangkat. Sesampainya dikediaman Abu ‘Ubaidah, pelayan Umar berkata; “Amirul Mukminin memberi uang ini untuk kebutuhan engkau!” Abu ‘Ubaidah menjawab; “Semoga Allah merahmati beliau”.

Abu ‘Ubaidah langsung memanggil pelayan wanitanya; “Bawalah tujuh keping kepada si fulan, lima keping kepada si fulan, dan……”, hingga uang sejumlah 400 dinar itu tak bersisa. Pelayan Umar pun kembali dan melaporkan peristiwa itu kepadanya.

Kemudian dengan sejumlah uang yang sama, Umar kembali memerintahkan pelayannya untuk membawakannya kepada Muadz bin Jabal. “Berikan uang ini kepada Muadz dan tunggulah seperti yang kau lakukan kepada Abu ‘Ubaidah!”

“Semoga Allah merahmati Umar,” ucap Muadz setelah menerima sekantung uang dinar. Lantas Muadz langsung memanggil pelayannya untuk membagi-bagikan 400 dinar itu.
Muadz berkata kepada pelayannya, “Pergilah ke rumah si fulan dan berikan kepadanya sekian, kemudian ke rumah si fulan sekian, lalu ke fulan sekian……” hingga tiba-tiba datanglah istri Muadz seraya berkata, “Wallahi, kita juga orang miskin, berilah!” Maka Mu’adz memberikan sisa uang tersebut, dan ternyata tersisa dua dinar. Mendengar laporan pelayannya terkait perihal kedua sahabatnya itu gembiralah Umar bin Khattab karenanya. Umar pun berucap, “Mereka berdua benar-benar ikhwah (teman sejati dunia – akhirat)”.
Umar sangat selektif, cermat dan super hati-hati dalam memilih orang untuk menemaninya dalam memimpin. Ia tidak mau terjebak oleh penampilan lahiriah saja.Sebab tidak menutup kemungkinan penampilan lahiriah tidak mewakili penampilan batiniah yang sesungguhnya.

Ahmad bin Qais bercerita bahwa Umar pernah menahannya dalam jangka waktu satu tahun. Suatu saat Umar berkata, “Tahukah engkau mengapa aku menahanmu? Saya ingin mengujimu karena saya tahu secara lahiriah engkau baik. Saya ingin mengetahui, apakah batinmu pun baik, karena Rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam telah mengingatkan kita akan perihal orang munafiq yang pandai bersilat lidah. Dan ternyata engkau tidak seperti itu, engkau benar-benar teman yang baik.”
Jabatan Itu Amanah


Allah Subhanahu Wata’ala menurunkan risalah Islam ini untuk meluruskan pandangan manusia terhadap segala hal. Islam memberikan petunjuk akan hakikat segala sesuatu, termasuk soal jabatan. Dalam Islam jabatan bukanlah kedudukan yang menjanjikan kebahagiaan. Apabila jabatan dipegang oleh orang yang buruk keimanannya, jelek kredibilitasnya, maka kehancuran dunia akhirat telah mengintainya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam beserta sahabatnya telah memberikan contoh praktik bagaimana semestinya umat Islam menyikapi jabatan. Sekalipun sebagai khalifah rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam tidak pernah menikmati makanan-makanan lezat, fasilitas mewah, apalagi jaminan berupa anggaran rumah tangga. Beliau sering berpuasa karena tidak ada yang bisa dimasak.

Begitu pula Abu Bakar ra. Meskipun telah diamanahi menjadi pelanjut kepemimpinan rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam, Abu Bakar tetap mencari nafkah sendiri dengan berjualan di pasar. Demikian pula halnya dengan Umar bin Khattab yang tak pernah dekat kecuali dengan anak yatim, fakir miskin, dan orang-orang tertindas lagi kesusahan.

Tetapi semua itu kini tidak berlaku di negeri ini. Saat ini jabatan dikejar-kejar sampai menghalalkan segala cara. Jabatan menjadi ajang perebutan, sehingga terjadi perpecahan dan bentrokan yang tidak semestinya terjadi. Lihat saja kasus pemilukada di tanah air yang sering berujung dengan kericuhan dan kerusuhan.

Sebagai seorang Muslim kita harus kembali memandang sesuatu dengan tuntunan wahyu. jangan memandang sesuatu baik kecuali Allah dan rasul memang menilai itu baik. Demikian pula sebaliknya, jangan memandang sesuatu buruk kecuali Allah dan rasul menilainya buruk.

Oleh karena itu merupakan satu langkah yang tidak indah, tidak baik, dan tentu tidak benar, jika kita sesama Muslim harus adu otot, adu jotos untuk memperebutkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu diperebutkan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam melarang keras hal ini. Sebagaimana sabdanya; “Sepeninggalku nanti janganlah kalian kembali menjadi orang-orang kafir, sehingga sebagian menghajar tengkuk sebagian yang lain.” (HR. Bukhari).

Seperti sekarang sering terjadi, terkadang tanpa sadar kita sesama Muslim saling sikut, saling jilat dan saling injak hanya untuk urusan jabatan agar bisa mendapatkan kekayaan.
Sebagian kelompok elit sengaja menggunakan masyarakat kecil untuk melakukan kerusakan demi kepentingan politisnya. Bahkan ketika rakyat menolak suatu kebijakan dan menuntut perbaikan, sebagian pejabat malah menghadapinya dengan kasar hanya karena untuk mempertahankan jabatannya. Akhrinya terjadilah pertumpahan darah di antara sesama Muslim.

Padahal rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam melarang kita yang demikian itu. Tetapi apa mau dikata, ketika wahyu sudah tinggal bacaan. Kita tidak bisa hentikan, perilaku umat atau rakyat kian jauh dari tuntunan kebenaran sebab para pemimpinnya tidak lagi mengamalkan aturan Allah SWT.
Dengan demikian, masihkah kita ingin mendapat kekayaan dengan cara merengkuh jabatan? Memimpin dengan nafsu bukan ilmu? Padahal semua itu adalah amanah yang kelak pasti akan dipertanggungjawabkan.
Rasulullah mengatakan,  "Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian, mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah mereka yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian." (HR. Imam Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan, "Ada tiga orang yang tidak ditolak do'a mereka: orang yang berpuasa sampai dia berbuka; seorang penguasa yang adil; dan do'a orang yang dizalimi (teraniaya). Do'a mereka diangkat oleh Allah ke atas awan dan dibukakan baginya pintu langit dan Allah bertitah, "Demi keperkasaanKu, Aku akan memenangkanmu (menolongmu) meskipun tidak segera." (HR. Tirmidzi)

Masalahnya, apakah selama menjadi pemimpin, kita semua ini adalah orang yang adil dan amanah?
Ketahuilah saatnya nanti ajal akan tiba melenyapkan segalanya. Saat di mana dosa akan diperhitungkan dan amal sholeh dilipatgandakan. Hanya pemimpin yang adil saja yang akan mendapatkan ridha Allah Subhanahu Wata’ala. Itulah pemimpin sejati, pemimpin yang rela menderita di dunia demi rakyat dan dalam rangka menegakkan kebenaran Islam.*/Imam Nawawi (www.hidayatullah.com)

SuJu, Bieber, dan ‘Kegilaan’ Remaja Kita

Sabtu, 28 April 2012

SIHIR  Super Junior (SuJu) –boyband asal Korea Selatan- sangat kuat. Sekalipun mahal, tiket konser mereka di Jakarta diburu para remaja. Hal yang mirip terjadi pula pada saat Justin Bieber –penyanyi belia asal Kanada- manggung di Jakarta setahun sebelumnya, pada 2011.

“Antre Tiket SuJu, 12 Remaja Pingsan” (www.jpnn.com 8/4/2012). Dikabarkan, bahwa demi untuk melihat pertunjukan Super Junior (SuJu), remaja rela merogoh kocek ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Bahkan, mereka rela antre sejak sehari sebelum loket tiket dibuka pukul 08.00 pada 7/4/2012. Karena kelelahan, 12 remaja pingsan saat mengantre. Kacaunya antrean dan fisik yang lemah adalah penyebabnya. Mereka antre mulai dini hari dan belum makan.

Bagi sebagian orang, tingginya antusiasme remaja saat berburu tiket itu cukup mencengangkan. Lihatlah! Seluruh tiket yang disediakan panitia habis. Berapa harganya? Mulai kelas junior sky Rp 500 ribu, super sky Rp 1 juta, junior VIP Rp 1,4 juta, super box Rp 1,7 juta, hingga termahal super VIP Rp 2 juta.

‘Kegilaan’ Itu

Pemandangan serupa itu juga terjadi sekitar setahun sebelumnya. Saat itu, Justin Bieber akan manggung di Jakarta pada 23/4/2011. Banyak remaja yang mengalami histeria dan tampak melakukan hal-hal yang tak perlu. Misal, sekalipun tiket berharga mahal yaitu Rp 1.000.000, Rp 750.000, dan Rp 500.000 tapi beliebers (penggemar Justin Bieber) rela antre untuk waktu yang lama agar mendapatkannya. Untuk bisa menonton konser dari remaja Kanada yang –ketika itu- berusia 16 tahun tersebut, ribuan remaja bahkan sudah mulai mengantre tiket sejak dini hari. Padahal loket masih akan dibuka beberapa jam lagi, yaitu di pagi hari saat jam kerja.

Justin Bieber seolah menjadi idola dan punya magnet luar biasa di tanah air. Meski konser pelantun Baby itu di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, baru akan berlangsung pada 23/4/2011, ribuan orang rela antre untuk mendapatkan tiketnya pada (22/01/2011) tahun lalu.

Bahkan ribuan orang yang didominasi para ABG antri dan berdesak-desakan. Antrean tiket yang mengular sejak pukul 5 pagi mencapai 1 kilometer, padahal loket penjualan tiket baru dibuka pukul 9 pagi.  Sempat terjadi kericuhan akibat aksi saling dorong antarpengantre. Beberapa remaja putri yang mendominasi antrean tersebut terlihat menangis karena kesakitan terhimpit. Bahkan, tidak sedikit yang jatuh pingsan.

Lalu, bagaimana suasana di hari pertunjukannya? Dikutip kompas.com, (23/04/2011), bisa kita baca: Antusiasme para anak baru gede (ABG), terutama perempuan, untuk menyaksikan konser World Tour 2011 Justin Bieber sungguh luar biasa. Meski konser baru akan dimulai pukul 19.30, sejak sebelum pukul 12.00 mereka sudah mulai berdatangan. Lalu, bagaimana dengan mereka yang belum memegang tiket? Tiket ada, tapi harganya melangit, yakni antara Rp 4 juta hingga Rp 5 juta.

Sekitar 10 ribu penonton hadir. Para penggemar Justien Biber yang kebanyakan masih remaja ini datang menggunakan berbagai asesori yang bisa diasosiasikan sebagai fans berat sang idola. Misal, mereka memakai baju berwarna ungu, sebab sang idola suka sekali dengan warna ungu. Mereka juga membawa berbagai atribut yang bertuliskan Justin Bieber I Love You. Singkat kata, Justin Bieber sukses membuat para penggemarnya turut menyanyikan lagu-lagunya dengan fasih dan bahkan berteriak-teriak histeris di sepanjang konser.

Sejumlah Pertanyaan

Remaja memiliki idola itu sesungguhnya biasa-biasa saja. Yang  perlu kita cermati adalah jika secara tak sengaja idola itu bergeser menjadi uswah, yaitu seseorang yang kita teladani karena perilakunya  sangat  baik.

Berpindahnya idola menjadi uswah cukup mudah terjadi, yaitu begitu seseorang mengidolakan seseorang dan lalu meniru semua perilakunya, maka pada saat  itu sesungguhnya idola telah menjelma menjadi uswah.

Berhati-hatilah! Jika kita salah  mengambil  idola dan apalagi uswah, maka di samping Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagi kita,  juga  Rasulullah SAW telah memberi peringatan: “Barang siapa meniru-niru suatu kaum, maka ia termasuk dari golongan mereka.” 

Mari kembali ke ’kasus’ SuJu dan Justin Bieber.
 
Pertama, saat para remaja antusias mengantre tiket mulai dinihari. Pertanyaannya, seperti itukah performa mereka dalam menegakkan shalat tahajjud di sepertiga malam yang terakhir?

Kedua, ketika para remaja tampak tak ragu-ragu mengeluarkan uang Rp. 500 ribu bahkan berlipat-lipat dari itu untuk mendapatkan tiket. Pertanyaannya, semudah itukah mereka saat menyumbang untuk pembangunan sebuah masjid? Segampang itukah uang keluar saat mereka akan membeli buku-buku agama?

Ketiga, pertunjukan baru akan dimulai sekitar pukul 19.30. Tetapi, mereka telah tampak siap menunggu di lokasi pertunjukan sejak pukul 12.00-an. Pertanyaannya, seperti itukah performa mereka jika menunggu datangnya waktu shalat yaitu telah bersiap-siap jauh sebelumnya.

Keempat, di hampir semua lagu yang dinyanyikan sang artis, para remaja itu tampak bersemangat ikut menyanyikannya. Mereka rata-rata hafal dengan banyak lagu-lagu sang idola. Pertanyaannya, bagaimana dengan hafalan Al-Qur’an mereka, terutama yang dibaca saat shalat? Berapa surat yang dihafal?

Kelima, di saat menonton pertunjukkan, banyak remaja yang warna busananya disesuaikan dengan warna kesukaan sang idola. Untuk Justin Bieber yang suka ungu –misalnya- maka para remaja itu banyak yang mengenakan busana berwarna ungu. Pertanyaannya, khusus untuk remaja laki-laki, seperti itukah performa mereka saat hari Jum’at yaitu berbusana warna putih sebagaimana sunnah Nabi Muhammad?           

Uswah Kita

Jangan salah mengambil uswah (teladan)! Rasulullah SAW adalah teladan terbaik. ”Sesungguhnya telah  ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS Al-Ahzab [33]: 21). 


Penulis adalah peneliti di InPAS dan dosen STAIL Pesantren Hidayatullah Surabaya



sumber: www.hidayatullah.com

Kebijakan Pendidikan Nasional Tak Miliki Arah Yang Jelas

Sabtu, 21 April 2012

Oleh: Raihan Iskandar
Aleg DPR RI komisi X
Laporan UNESCO, Lembaga Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB soal Indeks Pembangunan Pendidikan dalam EFA (Education for All) Global Monitoring Report 2011: Di Balik Krisis: Konflik dan Militer yang dikeluarkan Maret 2011 lalu memperlihatkan peringkat Indonesia turun dari peringkat ke-65 tahun lalu menjadi peringkat ke-69 dari 127 negara di dunia.

Data UNESCO menyebutkan, di tingkat SD, dari  31,05 juta siswa, sekitar 1,7 persennya putus sekolah atau sekitar 527 ribu siswa dan 18,4 persen tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya atau sekitar 5,7 juta siswa.  Pada satuan sekolah menengah pertama (SMP), dari jumlah 12,69 juta siswa, 1,9 persen putus sekolah atau sekitar  241 ribu, dan 30,1 persen di antaranya tidak dapat melanjutkan ke tingkat sekolah menengah atas (SMA) atau sekitar 3,8 juta.

Jika dikaitkan dengan program Wajar 9 tahun, maka jumlah siswa yang tidak menyelesaikan pendidikan sampai tingkat SMP mencapai 10,268 juta siswa. Angka yang cukup tinggi ini bisa mengancam keberlangsungan program penuntasan Wajar 9 tahun. Tingginya angka siswa yang tidak menuntaskan program Wajar 9 tahun ini disebabkan terutama karena ketidakmampuan ekonomi keluarga.
Fakta tersebut menunjukkan, ada persoalan mendasar yang belum sepenuhnya diselesaikan oleh Pemerintah, yaitu akses pendidikan. Pokok persoalan yang terjadi adalah masih terbatasnya akses pendidikan yang terjangkau bagi semua warga negara usia sekolah. Sejatinya, persoalan inilah yang harus disasar oleh Pemerintah, dengan cara memberikan akses yang seluas-luasnya bagi semua warga negara untuk bisa menikmati layanan pendidikan.

Ini menunjukkan bahwa Pemerintah belum sepenuhnya mewujudkan terselenggaranya layanan prima pendidikan nasional. Padahal, Pemerintah, dalam hal ini Kemendiknas telah membuat sebuah Renstra Kementerian 2014 yang menekankan terwujudnya layanan pendidikan untuk semua warga negara, tanpa kecuali. Ini artinya, Pendidikan gratis yang didengung-dengungkan selama ini ternyata juga hanya pepesan kosong. Kewajiban Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi, sebagaimana amanat UU Sisdiknas pasal 11 ayat (1) dan (2) tak berdampak signifikan. Program Wajib Belajar yang mengharuskan Pemerintah membiayai penyelenggaraan pendidikan, sebagaimana tertera dalam konstitusi kita, UUD Negara RI tahun 1945 pasal 31 ayat 2, nyatanya masih harus ditanggung juga oleh masyarakat miskin. Kewajiban negara untuk memberikan layanan masyarakat justru masih dibebankan oleh banyak pungutan yang terjadi di sekolah-seolah.

Ironisnya, persoalan akses layanan pendidikan dan penuntasan program Wajar 9 tahun ini pun dihambat oleh sejumlah instrumen kebijakan Pemerintah. Kebijakan Pemerintah soal Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah sangat berpotensi menghambat penuntasan program wajib belajar 9 tahun. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 78 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Internasional, khususnya pasal 16 ayat (1) sangat membuka peluang adanya pungutan terhadap para peserta didik. Peluang inilah yang dipakai oleh sejumlah sekolah bertitel RSBI/SBI untuk mematok tarif setinggi-tingginya kepada peserta didik yang tarifnya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Alhasil, RSBI pun menjadi sarana seleksi status sosial dan menciptakan segregasi sosial di kalangan masyarakat.

Persoalan lain yang juga menggambarkan tak jelasnya arah pendidikan kita adalah kebijakan soal Ujian Nasional (UN). Meskipun formula UN sudah dimodifikasi, tetap saja UN menjadi momok yang menakutkan bagi siswa, sekolah dan Pemerintah Daerah. Kecurangan yang masih terjadi dalam penyelenggaraan UN tahun 2011 ini memperlihatkan kepada kita bahwa kecurangan tersebut bersifat struktural dan sistemik. Terdapat persoalan kultur “bapakisme” dan “prestisius” yang bermuara pada munculnya sikap pragmatisme yang menggejala dalam dunia pendidikan kita. Kebijakan UN, dalam praktek, menstimulus banyak pihak untuk berlomba-lomba mencapai target setinggi-tingginya dengan berbagai cara, termasuk dengan melakukan praktek perjokian dan pembocoran soal.

Realitas ini tentu saja bertolak belakang dengan tujuan penyelenggaraan pendidikan sebagaimana tertera dalam UU Sisdiknas Pasal 3 yang menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dua kebijakan dalam dunia pendidikan tersebut menggambarkan betapa arah dan kebijakan pendidikan nasional belum memiliki arah dan keterpaduan yang jelas.

Sabarlah Suriah… Sesungguhnya Kemenangan itu Bersama Kesabaran

Jumat, 23 Maret 2012

Oleh: Muhammad Badi
Segalah puji milik Allah, Maha penghancur segala keangkuhan, Maha penekan segala  kediktatoran, dan orang-orang tunduk dibawah ketiak Fir’aun, Maha Pemberi kerajaan kepada siapa yang dikehendaki, dan mencabutnya dari siapa yang dikehendaki, shalawat dan salam atas sebaik-baik makhluk Allah, pemimpin, teladan dan qudwah kita, Muhammad saw.. selanjutya..

Meskipun hampir setahun perjalanan intifadhah rakyat Suriah untuk menuntut hak-hak mereka berupa kebebasan, kehormatan, keadilan dan kesetaraan, seiring dengan berbagai tuntutan bangsa Arab pada berbagai revolusi musim semi Arab,  menolak  pemerintahan Suriah yang kejam, -angkuh, penipu dan sombong- yang enggan merespon tuntutan ini, justru bertambah kekejiannya sehingga -sedikitnya- ribuan rakyat terbunuh, dan puluhan ribu lainnya terluka akibat siksaan, pengusiran, pembantaian sehingga mengalir darah para syuhada yang suci, bangunan-bangunan di berbagai kota hancur dan roboh, meskipun berbagai seruan secara beruntun darinegara-negara besar dan kekuatan-kekuatan lainnya yang menuntut rezim pemerintahan Suriah yang jahat memberikan respon tuntutan rakyatnya dan berhenti melakukan tindakannya yang arogan, karena zaman telah berubah dan rakyat adalah pemilik kekuasaan dan keputusan. Namun, hingga sekarang belum mau menerima keinginan tersebut, dan tetap berjalan sesuai dengan hawa nafsunya… Rezim pemerintah yang jahat ini masih saja keras kepala dengan kejahatan dan kebengisannya, berjalan mengikuti keinginan syaitan dan antek-anteknya, bahkan kejahatannya telah mencapai puncaknya, sedikitpun tidak memberikan sinyal untuk memberikan rasa aman dan ketentraman kepada rakyatnya, bahkan untuk memberikan perlindungan sekalipun, justru menjadi pionir dalam melakukan kezhaliman, kelaliman, kekerasan dan teror dalam bentuk yang paling keji. Kezhaliman telah membutakan matanya, kekejiannya telah menulikan telinganya, sehingga berhak atasnya firman Allah:

ูˆَุฅِุฐَุง ุชَูˆَู„َّู‰ ุณَุนَู‰ ูِูŠ ุงู„ุฃุฑْุถِ ู„ِูŠُูْุณِุฏَ ูِูŠู‡َุง ูˆَูŠُู‡ْู„ِูƒَ ุงู„ْุญَุฑْุซَ ูˆَุงู„ู†َّุณْู„َ ูˆَุงู„ู„َّู‡ُ ู„ุง ูŠُุญِุจُّ ุงู„ْูَุณَุงุฏَ  ูˆَุฅِุฐَุง ู‚ِูŠู„َ ู„َู‡ُ ุงุชَّู‚ِ ุงู„ู„َّู‡َ ุฃَุฎَุฐَุชْู‡ُ ุงู„ْุนِุฒَّุฉُ ุจِุงู„ุฅุซْู…ِ ูَุญَุณْุจُู‡ُ ุฌَู‡َู†َّู…ُ 
ูˆَู„َุจِุฆْุณَ ุงู„ْู…ِู‡َุงุฏُ

“Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk Mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan. Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya”. (Al-Baqarah:205-206)

Dan karena murka Allah menyebabkan dirinya tidak mau mendengar seruan orang-orang yang ikhlas, dan tidak mau memperhatikan arahan dari para pemberi nasihat, kecuali terus melakukan politik yang keji dan terlaknat yang meruntuhkan pondasi negara dan menghancurkan penyangganya dengan berkeyakinan bahwa hal tersebut akan mempertahankan prestisenya, meniru politik Fir’aun yang lama dan baru di setiap masa dengan melakukan tindakan pelanggaran dalam bentuk kezhaliman dan kediktatoran

ุณَู†ُู‚َุชِّู„ُ ุฃَุจْู†َุงุกَู‡ُู…ْ ูˆَู†َุณْุชَุญْูŠِูŠ ู†ِุณَุงุกَู‡ُู…ْ ูˆَุฅِู†َّุง ูَูˆْู‚َู‡ُู…ْ ู‚َุงู‡ِุฑُูˆู†َ

“Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka; dan Sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka”. (Al-A’raf:127)

Bahwa darah para syuhada dan rintihan orang-orang  yang terluka, kepedihan orang-orang yang tersiksa, bau mesiu, hantaman bom dari tank, berbagai sarana penyekapan dan penyiksaan merupakan kehinaan dan laknat yang akan ditimpakan oleh Allah dihadapan para penguasa keji dan keras kepala, dan merupakan pertanda akan runtuhnya singgasana mereka, jatuhnya kekuasaan mereka tanpa bisa kembali lagi, bahkan merupakan akhir dari kekuasaannya dalam aturan pemerintahan yang saya sangat yakin bahwa dirinya adalah pemimpin bangsa bukan pegawai yang mendapatkan upah darinya, menganggap dirinya dengan penuh keangkuhan bahwa rakyat harus tunduk kepadanya seperti Fir’aun yang berkata dihadapan rakyatnya:

ุฃَู†َุง ุฑَุจُّูƒُู…ْ ุงู„ุฃَุนْู„َู‰

“Aku adalah tuhan kalian yang tinggi” (An-Nazi’at:24)

Sejak awal kita telah menolak politik rezim Suriah, cara interaksi dan komunikasinya dengan para demonstran yang berasal dari rakyatnya sendiri, menghambat keinginan dan tuntutan rakyat Suriah, sehingga kami mengajak yang lainnya untuk segera menyambut dan memenuhi tuntutan rakyat dalam rangka memainkan perannya sebagai pelindung dan pelayan umat, bukan menyakiti dan membunuhnya, memelihara berbagai sumber daya alamnya bukan menghancurkan dan merampasnya,  tidak mau mendengar dan merespon nasihat siapapun, dan menduga bahwa tindakan dalam membunuh, menyiksa dan melakukan kerusakan di muka bumi, berusaha menjauhkan tuntutan yang mengarah pada revolusi Suriah yang penuh berkah, dan menjadikan rakyat Suriah tunduk dan bertekuk lutut kepada, namun jauh api dari panggangnya!! Dirinya lupa bahwa darah para syuhada merupakan pemicu revolusi, dan ketika bergejolak dalam darah maka semakin dekat ujungnya yang akan menjadi pelajaran seperti umat sebelumnya. Dan apa yang dialami oleh para penguasa zhalim Mesir, Tunisia, Libia dan Yaman dan orang-orang sebelum mereka seperti Fir’aun, Haman, Haile Selassie dan yang lainnya dari para thugat dan diktator tidaklah mustahil terjadi kembali atasnya.

Risalah Untuk Suriah Yang Tercinta…
Wahai bangsa yang memiliki sejarah, kemuliaan dan kekuatan Arab dan Islam… Allah pasti mendengar kalian dan memperhatikan doa kalian

ูŠุง ุงู„ู„ู‡!! ู…ุง ู„ู†ุง ุบูŠุฑูƒ ูŠุง ุงู„ู„ู‡

“Ya Allah!! kami tidak memiliki apapun selain Engkau  ya Allah!!”

Menghadirkan para syuhada setiap hari dan tidak pelit dengan darah untuk membebaskanmu, dan Allah SWT telah bersumpah dengan kebesaran-Nya, dengan keagungan-Nya akan membelamu walaupun dalam jangka waktu yang panjang…bahwa pertolongan Allah untuk kalian sangat dekat insya Allah, karena itu jangan merasa terhina dan jangan pula sedih, bersatulah kalian, dan jadilah hamba-hamba Allah yang saling bersaudara, karena persatuan kalian adalah rahasia kekuatan kalian dan mohonlah selalu pertolongan dan dukungan dari Allah SWT; karena Dialah pemilik keuatan dan kekuasaan atas hamba-hamba-Nya, wujudkanlah sarana-sarana kemenangan dalam jiwa kalian sehingga akan terwujud atas bumi kalian; satukanlah barisan dan potensi kalian

ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ูŠُุญِุจُّ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ูŠُู‚َุงุชِู„ُูˆู†َ ูِูŠ ุณَุจِูŠู„ِู‡ِ ุตَูًّุง ูƒَุฃَู†َّู‡ُู…ْ ุจُู†ْูŠَุงู†ٌ ู…َุฑْุตُูˆุตٌ
“
Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”. (As-Shaff: 4)

Jadikanlah kepemimpinan kalian sebagai misi kalian, hadirkanlah kebaikan-kebaikan yang mulia lagi tinggi untuk negeri melebihi kepentingan-kepentingan pribadi, jagalah keselamatan warisan kalian dan jangan terima intervensi asing dalam berbagai urusan kalian, hindarilah berbagai intrik-intrik rezim dalam bentuk media, dan terangkanlah hak-hak kalian dalam berbagai pertemuan baik nasional maupun internasional dan pada setiap kekuatan dan orientasi seluruh negara.

Dan ketahuilah bahwa kemenangan adalah dari sisi Allah, dan Allah pasti memberikan pertolongan kepada orang yang menolong agama-Nya

ูˆَู„َูŠَู†ْุตُุฑَู†َّ ุงู„ู„َّู‡ُ ู…َู†ْ ูŠَู†ْุตُุฑُู‡ُ ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ู„َู‚َูˆِูŠٌّ ุนَุฒِูŠุฒٌ

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa”. (Al-Hajj:40)

Karena itu, tolonglah agama Allah dalam jiwa-jiwa kalian dan dalam berbagai realita yang kalian hadapi niscaya kalian akan meraih ridha Allah, pertolongan dan dukungan dari arah yang tidak kalian duga, turun kepada kalian prajurit yang tidak bisa kalian lihat, dan jangan terpedaya terhadap kekuatan para thughat, kekejian dan kekerasan mereka, karena

ูƒَู…ْ ู…ِู†ْ ูِุฆَุฉٍ ู‚َู„ِูŠู„َุฉٍ ุบَู„َุจَุชْ ูِุฆَุฉً ูƒَุซِูŠุฑَุฉً ุจِุฅِุฐْู†ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ูˆَุงู„ู„َّู‡ُ ู…َุนَ ุงู„ุตَّุงุจِุฑِูŠู†َ
“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah:248)

Karena itu pula, ikhlaskanlah wajah kalian karena Allah, dan bersabarlah karena kemenangan adalah sabar sesaat

ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ุงุตْุจِุฑُูˆุง ูˆَุตَุงุจِุฑُูˆุง ูˆَุฑَุงุจِุทُูˆุง ูˆَุงุชَّู‚ُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ู„َุนَู„َّูƒُู…ْ ุชُูْู„ِุญُูˆู†َ
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung”. (Ali Imran:200)

Kepada Rezim Pemerintah Suriah yang Keji…
Jika masih ada dalam diri Anda sedikit rasa malu, maka malulah terhadap Tuhanmu, dan bertaqwalah kepada-Nya, dan jangan lupa bahwa Anda di upah oleh rakyatmu sendiri, dan peliharalah apa yang masih tersisa dari potensi negerimu, wujudkanlah berbagai tuntutan legalnya, turunlah dengan mengikuti keinginannya untuk melepaskan kekuasaan dan memberikanya kepada yang direstui dan dipilih olehnya sesuai dengan keinginannya yang merdeka, berhentilah menumpahkan darah saudaramu sendiri diberbagai kota dengan senjata pemusnah yang tidak digunakan untuk melawan para pelaku kejahatan di negerimu dan para musuh-musuhmu; bagaimana ini bisa terjadi pada dirimu terhadap anak bangsa yang tidak berdosa dan bersih!! ada sebuah syair mengatakan:
ูˆู„ู„ุญุฑูŠุฉ ุงู„ุญู…ุฑุงุก ุจุงุจ          ุจูƒู„ ูŠุฏ ู…ุถุฑَّุฌุฉ ูŠุฏู‚
Bagi siapa yang menginginkan kebebasan pasti ada pintunya # terhadap siapa yang memiliki tangan yang kuat untuk mengetuknya
Dan ketahuilah bahwa malam pasti akan hilang, bumi pasti berputar, dan dunia bukanlah tempat tinggal yang kekal

 ูˆَุชِู„ْูƒَ ุงู„ุฃَูŠَّุงู…ُ ู†ُุฏَุงูˆِู„ُู‡َุง ุจَูŠْู†َ ุงู„ู†َّุงุณِ
“
Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)”. (Ali Imran:140)

Karena itu, kejahatan yang kalian lakukan tidak akan jatuh dengan kehadirannya, dan rakyat tidak akan putus asa dalam melakukan qishah untuk para syuhada yang tidak berdosa

ูˆَู„ุง ุชَุญْุณَุจَู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ุบَุงูِู„ุง ุนَู…َّุง ูŠَุนْู…َู„ُ ุงู„ุธَّุงู„ِู…ُูˆู†َ ุฅِู†َّู…َุง ูŠُุคَุฎِّุฑُู‡ُู…ْ ู„ِูŠَูˆْู…ٍ ุชَุดْุฎَุตُ ูِูŠู‡ِ ุงู„ุฃุจْุตَุงุฑُ

“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak”. (Ibrahim:42)

Sungguh kejahatan yang telah memuncak dihadapan para hakim di Eropa di masa pertengahan, dan kejahatan para thughat dan diktator dalam sejarah mereka yang kelam, melakukan pembunuhan masal, penyiksaan, penangkapan yang brutal, tidak memiliki belas kasih dan sayang walaupun terhadap para wanita, anak-anak dan orang tua (lansia), keji dan kejam atas orang-orang lemah yang termarjinalkan, mulai dari anak-anak, lansia dan wanita, menyengsarakan mereka melalui diskriminasi, pengucilan, pemaksaan, dan merendahkan martabat mereka dengan hati yang keras seperti batu.
Ketahuilah bahwa sunnatullah akan berlaku dengan menghinakan para diktator dan zhalim di dunia sebelum mengalaminya di akhirat nanti..

ู„َู‡ُู…ْ ูِูŠ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ุฎِุฒْูŠٌ ูˆَู„َู‡ُู…ْ ูِูŠ ุงู„ุขุฎِุฑَุฉِ ุนَุฐَุงุจٌ ุนَุธِูŠู…ٌ

“Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat”. (Al-Baqarah:114)

Karena itu, takabbur selalu disandingkan dengan kehinaan, karena ia merupakan sunnatullah yang tidak akan didapati dari sunnatullah perubahan..

ุงุณْุชِูƒْุจَุงุฑًุง ูِูŠ ุงู„ุฃุฑْุถِ ูˆَู…َูƒْุฑَ ุงู„ุณَّูŠِّุฆِ ูˆَู„ุง ูŠَุญِูŠู‚ُ ุงู„ْู…َูƒْุฑُ ุงู„ุณَّูŠِّุฆُ ุฅِู„ุง ุจِุฃَู‡ْู„ِู‡ِ ูَู‡َู„ْ ูŠَู†ْุธُุฑُูˆู†َ ุฅِู„ุง ุณُู†َّุฉَ ุงู„ุฃูˆَّู„ِูŠู†َ ูَู„َู†ْ ุชَุฌِุฏَ ู„ِุณُู†َّุฉِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุชَุจْุฏِูŠู„ุง ูˆَู„َู†ْ ุชَุฌِุฏَ ู„ِุณُู†َّุฉِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุชَุญْูˆِูŠู„ุง ุฃَูˆَู„َู…ْ ูŠَุณِูŠุฑُูˆุง ูِูŠ ุงู„ุฃุฑْุถِ ูَูŠَู†ْุธُุฑُูˆุง ูƒَูŠْูَ ูƒَุงู†َ ุนَุงู‚ِุจَุฉُ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ู…ِู†ْ ู‚َุจْู„ِู‡ِู…ْ ูˆَูƒَุงู†ُูˆุง ุฃَุดَุฏَّ ู…ِู†ْู‡ُู…ْ ู‚ُูˆَّุฉً ูˆَู…َุง ูƒَุงู†َ ุงู„ู„َّู‡ُ ู„ِูŠُุนْุฌِุฒَู‡ُ ู…ِู†ْ ุดَูŠْุกٍ ูِูŠ ุงู„ุณَّู…َุงูˆَุงุชِ ูˆَู„ุง ูِูŠ ุงู„ุฃุฑْุถِ ุฅِู†َّู‡ُ ูƒَุงู†َ ุนَู„ِูŠู…ًุง ู‚َุฏِูŠุฑًุง  ูˆَู„َูˆْ ูŠُุคَุงุฎِุฐُ ุงู„ู„َّู‡ُ ุงู„ู†َّุงุณَ ุจِู…َุง ูƒَุณَุจُูˆุง ู…َุง ุชَุฑَูƒَ ุนَู„َู‰ ุธَู‡ْุฑِู‡َุง ู…ِู†ْ ุฏَุงุจَّุฉٍ ูˆَู„َูƒِู†ْ ูŠُุคَุฎِّุฑُู‡ُู…ْ ุฅِู„َู‰ ุฃَุฌَู„ٍ ู…ُุณَู…ًّู‰ ูَุฅِุฐَุง ุฌَุงุกَ ุฃَุฌَู„ُู‡ُู…ْ ูَุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ูƒَุงู†َ ุจِุนِุจَุงุฏِู‡ِ ุจَุตِูŠุฑًุง

“Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu. Dan Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka? dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Kuasa. Dan kalau Sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; Maka apabila datang ajal mereka, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya”. (Fathir:43-45)

Kepada para pengekor rezim Suriah
Sesungguhnya, setiap bentangan tangan yang membantu rezim yang telah terkontaminasi tangannya dengan darah para ikhwan kita di Suriah, akan membayarnya dengan harga yang tinggi, baik politik, kebangsaan dan undang-undang; karena rakyat tidak akan menerima intervensi atas urusan dalam negeri dan memberikan dukungan kepada rezim pembunuh serta berdiri disamping dan memberikan dukungannya, baik dalam konteks internasional  atau memberikan dukungan dalam bentuk militer pada waktu tertentu.
Bahwa keinginan rakyat akan selalu kuat dan selamanya ada, dan kemaslahatan yang hakiki adalah saat bersama rakyat bukan bersama rezim zhalim dan pembunuh terhadap rakyatnya, karena kesadaran rakyat lebih besar daripada ditiru dengan berbagai alasan semu atau dalih-dalih yang tidak benar, dan kepada negara-negara yang mendukung rezim ini kelak akan menanggung tindakannya berupa penolakan dari rakyatnya sendiri, dihentikan dan dikatagorikan sebagai negara yang mendukung pembantaian, kezhaliman, kepalsuan dan kerusakan.

Kepada pemerintahan Arab
Bahwa kalian akan bertanggungjawab dihadapan Allah kelak, kemudian dihadapan rakyat kalian untuk rakyat Suriah, dan berpihak pada kehendak rakyat dalam menangani kejahatan rezim Suriah dengan menggunakan berbagai sarana prosedur yang efisien dan efektif untuk menyuntikkan darah dan melindungi harga diri, dan mengisolasi rezim apartheid yang menjengkelkan, dan jauh dari berbagai komite yang telah diencerkan posisinya dan lebih lanjut memungkinkan rezim diktator melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Sekarang kalian dituntut lebih banyak dari waktu sebelumnya untuk menunaikan tugas nasional terhadap Suriah, menjadi pemimpin dengan bekerja keras untuk mendukung revolusi Suriah, memberikan tekanan pada rezim guna memaksanya untuk menanggapi tuntutan rakyat Suriah, dan perlunya komitmen untuk memberikan dukungan materi dan moral untuk rakyat Suriah dan oposisi Nasionalnya; guna meraih kemenangan menuju satu tujuan yang sah .

Apa yang terjadi di Suriah tidak bisa membuat kita melupakan apa yang terjadi di tanah yang penuh berkah di Palestina dari upaya kuat kaum Zionis untuk melakukan yahudisasi atas Al-Quds dan penghancuran Masjid Al-Aqsa serta mengubah struktur demografi Palestina, itulah yang sedang kita hadapi – dan akan terus kita hadapi – dengan segenap kekuatan kita dan seluruh bangsa Arab dan Islam serta kekuatan hidup yang ada dimuka bumi ini.

Mungkin risalah besar yang disampaikan di masjid Al-Azhar dari Ustadz Ismail Haniyeh, perdana menteri Palestina di forum Al-Azhar As-Syarif, dan simbolisme  untuk menyatukan Al-Aqsha dan Al-Azhar dan semua bangsa Arab dan Islam terhadap isu-isu nasional dan Grand Nasional, telah mencapai seluruh dunia; Palestina berada di jantung melankolis, dan jangan sampai ada yang berpikir bahwa kesibukan di berbagai daerah dan masalah internal akan melupakan permasalahan inti kita .. Palestina yang tercinta, Palestina yang menjadi kebanggaan dan kemuliaan .. Karena itu kemerdekaan dan kemajuan kita serta kebangkitan kita di semua lini kita arahkan untuk mendukung Palestina dan rakyatnya dan mendukung mereka sampai mereka mendapatkan hak-hak mereka  yang dirampas.

Semoga Allah melindungi tanah air kita dan rakyat kita, dan memberikan kemenangan rakyat kita di Palestina dan Suriah dan semua negara untuk mendapatkan kebenaran dan kebebasan, pembebasan, dan membantu kita untuk mencapai yang terbaik bagi agama dan bangsa kita serta warga negara kita, dan tidak akan kehilangan hak dibalik semua tuntutan tersebut..

ูˆَุณَูŠَุนْู„َู…ُ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุธَู„َู…ُูˆุง ุฃَูŠَّ ู…ُู†ْู‚َู„َุจٍ ูŠَู†ْู‚َู„ِุจُูˆู†َ

“Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali”. (As-Syu’ara:227)

Shalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad saw.
Segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam
Allah Maha Besar dan segala puji hanya milik Allah.

sumber: www.al-ikhwan.net

Menanti Pahlawan Untuk Indonesia

Selasa, 20 Maret 2012

dakwatuna.com – Langkah kaki Al-Farouk terus berjalan menyusuri jalan-jalan kota Madinah ketika itu, sesekali berhenti hanya untuk melepaskan rasa lelah dan merenggangkan otot yang telah bekerja keras sepanjang hari, demi menenangkan jiwa dengan kesejahteraan rakyatnya. Jika hal itu tidak ia lakukan, maka hatinya akan galau karena kekhawatiran akan rakyatnya yang masih belum bisa tidur karena kelaparan. Dia tak memerlukan ketatnya penjagaan para pengawal berbadan tegap, karena sudah cukup merasa aman dengan iman di jiwanya, memang tidak ada alasan untuk takut baginya selain pada Allah SWT, hingga jika ia melewati suatu jalan yang di sana dipenuhi dengan jin atau syaithan, maka bukannya Umar yang lari ketakutan, justru karena pesona keimanannya membuat para jin dan syaithan yang lari terbirit-birit. 

Bagaimana jika Allah menghadirkannya dalam sosok para pemimpin bangsa ini, mungkin saat kita sedang berkendaraan di jalan raya tidak ada lagi suara sirene polisi yang mencoba meminggirkan semua pengguna jalan, untuk sekedar memberikan tempat yang ‘istimewa’ bagi pejabat negeri ini yang lewat dengan penjagaan yang sangat ketat. Karena itu memang tidak berlaku bagi Umar.

Kilauan aura ruhiyah yang menyinari sampai ke pelosok jazirah Arab pada masa itu, bahkan cahayanya mampu memukau kita sampai detik ini. Terkadang hal itu seakan dongeng sebelum tidur jika kita melihat kondisi Indonesia saat ini. Indonesia tercinta merupakan Negara kaya akan hasil bumi yang berlimpah tidak terkecuali dengan aspal, batu bara, minyak bumi dll. Selain itu begitu besarnya rahmat Allah pada negeri ini dengan menjadikannya negara muslim terbesar di dunia. Namun alih-alih ingin membangun optimisme dan kebanggaan terhadap bangsa sendiri, justru satu demi satu aib-aib negeri ini terus menumpuk di pelupuk mata seakan tak rela untuk para generasinya sekedar mengatakan ‘aku bangga menjadi pemuda Indonesia.’ Namun dengan sangat terpaksa suara itu tertahan lantangnya oleh rasa malu, seperti puisi Taufik Ismail,
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia 
Rasa malu yang bukan tanpa sebab, semua bermula dari banyaknya pekerjaan rumah pemerintah yang tak kunjung selesai, sebagai contoh kasus tenaga kerja Indonesia yang masih belum jelas nasibnya. Seperti yang banyak diberitakan media, bahwa masih ada 320 kasus TKI kita di luar negeri yang terancam hukuman mati dan tak jelas nasibnya saat ini. Memang kita boleh berbangga pada usaha pemerintahan dengan terbebaskan Darsem dari hukuman matinya di Saudi Arabia, namun hal ini pun pemerintah terkesan lamban karena responnya baru terlihat setelah kasus ini ramai di media. Disusul dengan para pejabat yang tertangkap telah melakukan tindak pidana korupsi dengan berbagai macam modus dan motivasi, dari alasan balik modal saat kampanye hingga hanya untuk memperkaya diri, dan seakan-akan hal ini sudah bukan barang langka lagi banyak ditemukan di kalangan pejabat eksekutif, yudikatif dan legislatif  negeri kita.

Rasulullah saw bersabda dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Bukhari, muslim dan abu Daud dari Aisyah RA: “sesungguhnya yang mencelakakan orang-orang sebelum kalian disebabkan karena keadaan mereka yang apabila yang mencuri itu dari kalangan mulia (berkedudukan) mereka membiarkannya, dan apabila yang mencuri itu dari kalangan lemah maka mereka menerapkan had atasnya, demi Allah kalau saja Fatimah binti Muhammad mencuri maka pastilah saya yang akan memotong tangannya.”

Taujih rasul sebagai pemimpin Negara ini pada masa keemasan itu mengandung aspek sosial dan hukum serta sarat akan nilai-nilai kepemimpinan yang tegas, berwibawa dan berani. Nampaknya hadits ini cukup cocok dengan keadaan hiruk pikuk masalah bangsa yang sedang kita hadapi. Sudah barang tentu bukan hal yang aneh jika hari ini kita menemukan kasus seorang nenek yang telah tua renta yang terpaksa mencuri beberapa buah cocoa  dikarenakan lilitan ekonomi yang dia alami sehingga harus rela di penjara beberapa tahun, namun di sisi lain kita juga menemukan kasus Artalyta sebagai tersangka korupsi yang mendapatkan fasilitas hotel berbintang di dalam penjaranya, atau kasus korupsi pegawai pajak  yaitu Gayus yang melancong ke Singapura dan Nazarudin yang harus ‘bernyanyi’ dahulu membeberkan kasus-kasus besar yang menyeret nama-nama petinggi partai Demokrat baru bisa tertangkap. Sudah jelas mereka bukan dari kalangan fakir miskin atau rakyat yang lemah yang harus terpaksa mencuri karena rasa lapar yang diderita, mereka adalah kalangan elit politik yang jelas memiliki banyak asset dan uang yang mungkin dompet mereka pun masih tak mampu menyimpan banyaknya uang mereka. Tapi mengapa mereka masih saja merasa kurang dengan mencuri uang jutaan rakyat miskin???

Di sebabkan kebiasaan ini seakan sudah menjadi hal yang wajar, maka kaidah hukum yang berlaku saat ini adalah hukum hanya berlaku bagi rakyat dan tidak bagi pejabat. Sangat ironis memang, kita mendengar tentang inspeksi president SBY ke Tanjung Priok beberapa waktu yang lalu yang dikabarkan bahwa president kita itu kaget dengan upah buruh di sana yang di bawah UMR, tapi sayangnya kekagetan orang No.1 di negeri ini pun tak membuatnya berani berkata dan bertindak untuk menaikkan upah mereka. Ini lah sekelumit bola kusut bangsa kita. Mungkin terlalu banyak pemimpin bangsa kita yang belum mengetahui peringatan Rasulullah itu, yang intinya jika tak ingin celaka maka tegakkan hukum dengan seadil-adilnya.
Umar bin Khathab RA pernah berkata:

“ู„ุง ูŠุจุน ููŠ ุณูˆู‚ู†ุง ุฅู„ุง ู…ู† ุชูู‚ู‡ ููŠ ุงู„ุฏูŠู†”

“Tidak boleh berjualan seseorang yang berjualan di pasar kami kecuali orang yang faqih pada urusan agama”

Jika mengambil hikmah dari ucapan ini, hal ini tidak hanya berlaku di pasar-pasar yang sarat akan nilai keduniaan yang menggoda hingga diperlukannya orang-orang yang faqih dan takut pada Allah SWT, tapi harus diterapkan dalam dunia politik bangsa kita. Dengan lantang kita ucapkan’ siapapun dilarang menjadi pemimpin bangsa Indonesia kecuali orang yang faqih pada urusan agama’. Amin Semoga, karena kami rindukan sosok Umar untuk memimpin negeri ini.
Allahu’alam bi showab…(Siska Lis sulistiani, S.Sy)

Sepotong Kisah Pertemuan Presiden PKS Dengan Para Seniman Jatim

Kamis, 15 Maret 2012

”Bisakah Bapak turun?” Dan kamipun tegang. Basyir, pemuda 20-an tahun, buta, menyuruh presiden partai turun dari tempatnya dan datang ke audiens. Hal yang lazim sebetulnya dalam dunia Islam yang egaliter, dimana pemimpin dan rakyat dianggap sama. Hanya kita, masyarakat timur yang serba sungkan dan pemalu menganggap itu tak lazim. Tetapi Basyir memintanya. 

Maka pak Luthfi turun, dari meja lesehan yang disediakan sedikit lebih tinggi dari peserta seniman. Malam itu, Jumat 9 Maret 2012 di Dapur Desa, seniman dari berbagai aliran berkumpul : reog, barongsay, pecaksilat, penulis, kritikus, budayawan, geng motor, MIRAI – janapnese lovers, KLOSS – korean lovers, dll. Ketika perbicangan hangat berkisar seputar politik, dunia kesenian Jawa Timur, kritik terhadap pemerintah dan sorotan terhadap kebijakan-kebijakan partai; permintaan Basyir terasa asing dan tak masuk akal. Ketika lontaran pertanyaan yang diajukan demikian berbobot dan membutuhkan penjelasan panjang, permintaan sederhana Basyir sungguh tak terduga. Kami menyangka ia akan mengajukan permintaan agar orang-orang sepertinya mendapatkan tempat dan perhatian di tengah masyarakat; entah dukungan fasilitas atau dana. Tetapi permintaan Basyir sangat istimewa. Pak Luthfi mendatangi Basyir. 

Mereka berhadapan, diam sejenak. Meski pak Luthfi tersenyum, tetap saja, kami penonton tegang. ”Tahukah Bapak kenapa saya minta Bapak turun?” Suasana hening. Seluruh mata tertuju pada dua sosok yang berdiri berhadapan. ”Sebab saya tidak bisa lihat Bapak...saya buta.” Basyir meraba lengan pak Luthfi, meraba bahu dan kepalanya, lalu mencium kening dan rambutnya. Bukan skenario yang disiapkan panitia. Saya mengenal Basyir sebagai pemuda yang tulus. Basyir datang demi ikatan silaturrahim. 

Ketika malam itu saya hadir sebagai salah satu panitia, pertama yang ditanyakan Basyir adalah, ” mb Sinta, dimana tempat wudhu? Saya mau sholat Isya...” Basyir yang buta tertatih menuju kamar mandi, meraba jalan. Dan ia sholat di depanku. Basyir, tanpa sungkan, meminta presiden partai datang.. Maka, meledaklah tangis kami. Mereka berdua berpelukan. Seorang presiden. Seorang rakyat. Saling bersentuhan, menangis, memeluk, membiarkan pundak yang satu sebagai tumpuan beban. Pasti banyak yang ingin dikisahkan Basyir. Kepedihannya harus berjuang kuliah dengan sepasang mata yang buta. 

Keinginannya untuk menikah yang tertunda. Tetapi seseorang , seperti pak Luthfi yang memeluk dan mendekapnya, meski sesaat, pasti akan memiliki makna kehangatan yang membuat tanah ibarat langit. Perhatian tulus seorang pemimpin, meski sesaat, menggugurkan daun-daun prasangka. Semoga, kisah ini pun kelak akan terjadi berulang ketika presiden yang amanah memimpin negeri ini. Ia tidak hanya berdiri di atas panggung, tetapi turun ke jalan-jalan, menjadikan telinga untuk mendengar, hati sebagai tempat berkeluh kesah dan sepasang bahu sebagai tempat bersandar bagi orang-orang lemah. Basyir. Seiring mata kami rinai malam itu, sebuah semangat terjalin. Kau, aku, kita, meski berbeda, insyaAllah...akan bersama berangkat dalam kapal yang menghantarkan negeri ini menuju kejayaan. (Ditulis oleh Sinta Yudisia)

Masalah Itu Manis

Sabtu, 10 Maret 2012

dakwatuna.com - “Jangan katakan kepada Allah kalau kita punya masalah, tapi katakan kepada masalah kalau kita punya Allah”

Kutipan di atas saya copas dari status Facebook salah satu teman saya. Setelah membaca status itu saya langsung me-like-Nya padahal baru beberapa detik muncul di laman Facebook. Karena menurut saya kata-kata di atas sangat luar biasa. Iya, di tengah banyak dinding-dinding Facebook digunakan sebagai luapan keluh kesah, kekesalan, dsb. Yang seolah-olah menunjukkan ketidakikhlasan kita dalam menerima segala takdir ketentuan Allah Swt, teman saya ini meng-update status dengan nilai optimis.

Status teman saya di atas  sangat luar biasa menurut saya, dan status seperti itulah yang semestinya kita publish ke depan facebooker mania. Karena dengan membaca status yang luar biasa itu, teman kita yang membacanya mungkin akan tercerahkan walau boleh jadi sebelum membaca status kita itu dia sedang kegundahan. Kemudian biasanya status yang luar biasa di laman Facebook  akan  memunculkan 

komen-komen luar biasa lainya. Kalau begitu bukankah pahala akan mengalir kepada si peng-update status itu? Karena dia telah mencerahkan yang sedang gundah,memberi solusi yang sedang dirundung masalah.Jika ini yang terjadi, maka satu sisi fositif  laman “muka buku” ini telah dirasakan, dan kita telah menanam satu kebajikan.

Jika sebalik-Nya yang kita lakukan, yakni meng-update status-status yang berisi keluhan, emosi, cacian dan lain sebagainya. Apakah itu tidak menimbulkan satu dosa bagi kita sendiri. Karena kita sangat dilarang berkeluh kesah akan masalah atau takdir yang kita jalani. Kemudian jika ada teman yang memberikan jempol manis-nya akan status yang berisi keluh kesah itu, apakah dia tidak dikatakan melakukan sebuah keburukan karena seolah teman kita itu merasa setuju dengan apa yang kita update(keluh kesah kita).Jika itu yang terjadi berarti kita telah menanam satu keburukan bagi diri sendiri bahkan orang lain.

Jujur saya sangat tidak suka ketika membaca status-status teman saya yang berisi keluh kesah, sumpah serapah, atau cacian atas apa yang sedang mereka rasakan saat meng-update status-status mereka tersebut. Apalagi kalau saya tau mereka adalah teman-teman saya yang sama-sama telah mengenyam pendidikan pesantren yang diajarkan bagaimana sebenarnya kita dalam menghadapi sebuah masalah. Yaitu dengan mendekatkan diri kepada Allah serta introspeksi diri. Mungkin jadi masalah itu datang sebagai teguran darinya atas apa yang telah kita lakukan sebelum-Nya atau masalah itu datang sebagai ujian untuk men-tes keimanan kita.

Ketika kita ditimpa sebuah permasalahan, berarti Allah mau kita lebih dewasa dalam menghadapi hidup ini. Ketika kita ditimpa musibah, berarti Allah ingin agar kita mendekat kepadanya. Ketika kita ditimpa kesusahan, berarti Allah telah menyediakan untuk kita kemudahan. Karena sesungguhnya dibalik permasalahan ada proses pendewasaan, dibalik musibah ada hikmah, dibalik kesusahan ada kemudahan.

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”(QS. al-Insyiroh: 5-6)

Ketika permasalahan datang menghampiri, jangan mengeluh di hadapan sang pencipta, jangan memberontak akan keputusannya apalagi mengatakan bahwa Allah tidak adil. Namun, mintalah agar kita diberi kesabaran serta ketegaran dalam menghadapinya, diberikan solusi yang terbaik bagi kita, dan selalu mengharap dia memberikan ganjaran pahala untuk kita.

Tanpa malam purnama takkan indah. Tanpa lapar nikmat makanan takkan terasa. Tanpa dahaga sejuknya dingin air takkan memberi banyak makna. Begitu juga kemenangan atau kemudahan takkan banyak memberi arti tanpa didahului rintangan masalah kesusahan. Setelah mendung terbitlah cerah. Tak ada hidup tanpa masalah, karena masalah adalah sunnah-Nya. Yang kita perlukan hanya kebijakan dalam menyikapinya. Jika ketegaran yang kita bina, nikmat masalah akan terasa. Jika keluhan yang kita bina sengsara masalah akan selalu bertambah.

Masalah datang untuk kita hadapi, bukan untuk dicaci atau dimaki. Masalah adalah mediator dalam proses pendewasaan. Tanpa masalah kita takkan pernah dewasa. Tanpa masalah kita takkan menjadi orang yang luar biasa.”Jalan yang lurus dan mulus takkan pernah menghasilkan pengemudi yang hebat. Laut yang tenang takkan pernah menghasilkan pelaut yang tangguh. Langit yang cerah takkan pernah menghasilkan pilot yang handal.”

Di saat kita mencari solusi dalam suatu masalah, di saat itulah sebuah proses pendewasaan hidup akan dimulai. maka, berbahagialah mereka yang memiliki masalah dan mampu mengatasi masalah tersebut dengan brilian, yaitu dengan tetap selalu bersandar akan keputusan sang eksekutor yang maha adil setelah tawakal dilakukan. Mari bersama taklukkan masalah…! (Penulis: Herdiansyah)

SYARAT-SYARAT KEMENANGAN

Minggu, 26 Februari 2012

Kemenangan demi kemenangan atas kebaikan mulai bersemi. Secara bergiliran kita bisa melihat partai FJP menang di mesir, AKP kembali memimpin di Turki, Partai Ennahda menang di Tunisia, Partai PKP berjaya di Maroko. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa partai-partai tersebut sebelumnya hidup di bawah naungan otoriter penguasa sebelumnya yang berkuasa cukup lama dan tentunya gerak dan sepak terjang mereka dibatasi bahkan sering dipantau. Pasca kekacauan penggulingan penguasa mulailah mereka muncul satu per satu dan ikut andil dalam pemilihan umum. Alhasil, dengan izin Allah swt mereka mampu mengungguli partai kompetitor lain yang notabene bercokol lebih lama. Faktor apakah yang menyebabkan mereka bisa menang?Akankah PKS akan mengikuti jejak mereka ataukah malah semakin terpuruk?

Sayyid Quthb dalam karyanya Fi Dzhilalil Quran menyampaikan faktor-faktor apa sajakah yang akan menyebabkan sebuah gerakan Islam Pembaharu belum mampu meraih kemenangan. Dan bisa jadi faktor-faktor itulah yang menyebabkan Allah swt belum saatnya memberi kemenangan. Tentu menjadi tugas para da’i pembaharu untuk memenuhi faktor-faktor itu. Faktor-faktor itu diantaranya

·    Boleh jadi, kemenangan itu datang terlambat. Karena bangunan kaum mukminin belum mencapai tingkat kematangan yang prima, belum mencapai kesempurnaan, belum sempat menghimpun seluruh potensinya serta belum menampakkan kesiapan dan kekuatannya. Sehingga, jika pada kondisi ini, mereka mendapatkan kejayaan, niscaya kejayaan itu akan segera ambruk kerena mereka tidak memiliki kemampuan untuk mempertahankannya dalam jangka waktu yang panjang.

·   Boleh jadi, kemenangan itu datang terlambat, agar kaum mukminin mengerahkan tenaga dan simpanan terakhir yang dimilikinya. Sehinga tak lagi tersisa pada dirinya barang-barang berharga dan mahal. Semuanya di persembahkan secara mudah demi sabilillah.

·      Boleh jadi, kemenangan itu datang terlambat sampai kaum mukminin menguras habis kekuatannya. Sampai pada akhirnya mereka tahu bahwa kekutan manusia tanpa dukungan Allah tidaklah menjamin datangnya kemenangan. Kemenangan itu hanya datang dari Allah manakala mereka mengarahkan seluruh tenganya seraya menyerahkan segala urusan atau bertawakal kepada-Nya

·  Boleh jadi kemenangan itu terlambat datang agar ketika mereka meneguk berbagai penderitaan dan pengorbanan, hubungan mereka dengan Allah semakin kuat. Mereka tidak menemukan sandaran selain Allah dan tidak ada tempat mengadu dalam suasana duka selain Allah. Hubungan seperti inilah yang menjadi jaminan utama bagi terwujudnya sikap istiqomah setelah mereka meraih kemenangan. Maka mereka tidak bersikap melampaui batas dan tidak menyimpang dari kebenaran.

·      Boleh jadi, kemenangan itu datang terlambat karena kaum beriman dalam perjuangan dan pengorbanannya belum murni kepada Allah semata dan demi da’wah di jalan-Nya. Mungkin mereka berperang karena harta peperangan, atau karena keangkuhan atau untuk menunjukkan keperkasaannya di hadapan musuh. Sementara Allah SWT menginginkan jihad itu semata-mata karena-Nya dan di jalan-Nya, bersih dari segala kepentingan selainnya.

·      Boleh jadi kemenangan itu datang terlambat karena di tengah-tengah kebatilan yang sedang di perangi oleh kaum mukminin, masih terdapat sisa-sisa kebaikan. Sedangkan Allah menghendaki agar kebatilan itu tumbuh tanpa melibatkan sisa-sisa  kebaikan di dalamnya.

·      Boleh jadi kemenangan itu terlambat datang karena kebatilan yang sedang di berantas oleh kaum mukminin itu belum tampak kepalsuannya di khalayak. Seandainya dalam kondisi ini kebatilan itu di tumbangkan oleh kaum mukminin, mungkin muncul orang-orang yang terpedaya untuk menjadi pembela kebatilan, disebabkan mereka (orang-orang yang terperdaya itu) belum menyingkap tabir kebohongan kebatilan itu. Dengan demikian, kebatilan itu akan tetap berurat berakar pada jiwa manusia yang tak berdosa yang belum memahami hakikat kondisi yang dihadapinya. Maka, Allah SWT menghendaki kebatilan itu bertahan sampai manusia dapat melihatnya sebagai kebatilan dengan jelas dan mereka tidak menyesali kehancurannya.

·  Boleh jadi, pertolongan Allah terlambat turun karena lingkungan yang belum layak untuk menyambut datangnya kebenaran, kebaikan dan keadilan yang dilakukan oleh kaum beriman. Seandainya dalam kondisi seperti ini kaum beriman mendapatkan kemenangan, niscaya akan timbul perlawanan dari lingkungan yang belum memiliki stabilitas iman. Dengan demikian, akan terjadi pertarungan yang berkepanjangan.

Oleh: Sandhi Anggoro H
 (Di sarikan dari tafsir Fi Dzilalil Qur’an, Sayyid Qutb) didapat dari materi Mabit

Menanti Hadirnya Kemenangan

Kamis, 19 Januari 2012

Kini, ditengah-tengah terpuruknya umat Islam di bumi ini, dan kemunduran umat ini kita saksikan di setiap langkah kaki kita berpijak. Benar kata Rasulullah SAW, suatu saat nanti Islam di akhir zaman diantara orang-orang kafir bagaikan makanan yang berada disebuah wadah yang diperebutkan oleh orang-orang yang kelaparan. Dan begitu juga umat Islam sendiri bagaikan buih dilautan, banyak tetapi tidak berdaya. 

Di bumi jihad palestina kita menyaksiakn sendiri bagaimana kaum kafir zionis la’natullah ‘alaihim jami’an yang penduduknya hanya segelintir orang mampu menyiksa, merampas dan membunuh di tengah-tengah bangsa Arab yang mayoritas kaum Muslimin.

Maka sekarang! Kami semua sedang menunggu tibanya hari dimana para aktivis muslim, terkhusus para syabaab, datang dengan ghirah yang membara memperjuangkan Islam dari keterpurukan tersebut. Kami menunggu hari semacam hari dimana Abu Bakar saat terjadi murtad massal, semacam hari Khalid saat perang Yarmuk, semacam hari Sa’ad saat perang Qadishiyah, semacam hari Muhammad Al-Fatih saat penaklukan konstantinopel, dan semacam hari Shalahuddin al-Ayyubi saat menduduki kembali Palestina dalam perang Hithin.

Kami ingin –walaupun sesaat ketika ruh kami telah sampai di tenggorokan- mata kami merasakan sejuknya menyaksikan khilafah Islamiyah, telinga kami mendengar merdunya panji-panji Islam berkibar di Timur dan Barat. Dan badan kami merasakan payungnya yang teduh memenuhi dunia dengan keadilan, kesejahteraan, kebenaran dan petunjuk. Kami sungguh ingin menyaksikan saat Khilafah memandang awan lalu berkata, “Wahai awan, pergilah ke Timur dan ke Barat dan segala penjuru yang kamu sukai, niscaya kamu pasti akan menjumpaiku disana.”

Kami memimpikan suatu hari seperti harinya Shalahuddin al-Ayyubi menaklukan Yerussalem. Saat beliau dengan jiwa kepemimpinannya mampu untuk menyatukan umat Islam yang dahulunya tercerai berai menjadi sebuah kekuatan maha dahsyat nan kokoh yang tidak terkalahkan oleh pasukan salib waktu itu.
Kami benar-benar merindukan suatu hari saat Allah lewat tangan Sultan Muhammad Al-Fatih menundukkan Konstantinopel atau Istambul. Beliau berhak menyandang pujian Nabi dalam hadits yang terkenal:
Konstantinopel benar-benar akan ditaklukkan. Panglima perangnya adalah sebaik-baik panglima, dan pasukannya pun sebaik-baik pasukan. (Imam Ahmad dalam Musnadnya 4/335)
Kami menunggu hari semisal hari-hari itu dengan sangat cemas dan gelisah.
Sesungguhnya kemenangan Islam adalah harapan tertinggi yang menjadi cita-cita seseorang, supaya matanya menjadi sejuk di dunia karenanya.
Hari ini kita merasakan bahwa yang dimaksud dengan kebaikan di dunia yang termuat di dalam firman-Nya,
Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akherat. (al-Baqarah: 201)
Bahwasanya itu adalah kemenangan Islam dan dien ini. Sungguh, kebaikan yang tak tertandingi. Kebaikan yang menepis segala kelesuan, kegundahan, dan kesedihan, meski salah seorang dari kita mesti kehilangan keluarga, anak, harta, atau kedudukannya di jalan ini. Kami benar-benar merindukan hari-hari semisal hari kala Allah memenangkan dien-Nya, memuliakan wali-wali-Nya, dan hizb-Nya melebihi kerinduan kami kepada istri-istri kami, anak-anak kami, bapak-bapak kami, ibu-ibu kami, hal mana kami sudah tidak berjupa dengan mereka selama bertahun-tahun.

Kami benar-benar merindu sejuknya mata kami oleh hari semacam hari ‘Uqbah bin Nafi’, saat ia tegak di atas pelana kudanya, menceburkan kudanya di tepian Samudera Atlantik seraya berkata,”Demi Allah, sekiranya aku tahu bahwa di seberang sana ada daratan, niscaya aku akan berperang di sana di jalan Allah!”
Lalu ia menatap langit seraya berkata, “Wahai Rabbku, jikalau bukan karena lautan ini, niscaya aku akan ke seberang sebagai mujahid di jalanmu” (al-Kamil fit Tarikh, Ibnul Atsir 3/42)

Kami benar-benar menunggu hari-hari itu.
Adakah kalian memenuhinya?
Adakah kalian mengabulkannya?

Oleh: Ibnu Chaldun
(Mahasiswa Teknik Nuklir UGM 2008)

Sumber: fimadani.com

KIPRAH DPC

NASIONAL

DUNIA PKS

 

© Copyright DPC PKS Lawang 2010 -2011 | Redesign by PKS Lawang | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.