News Update :

KABAR DPC

KIPRAH BIDPUAN

KOLOM

DUNIA ISLAM

SUPLEMEN RUHIYAH

Photo Album


Created with flickr slideshow.
Tampilkan postingan dengan label taujihat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label taujihat. Tampilkan semua postingan

Lima “Obat” Penawar Galau

Sabtu, 28 April 2012

GALAU adalah kata yang sangat  popular akhir-akhir ini terutama dikalangan muda generasi bangsa. Semua telah terjangkiti sebuah kata yang menandakan seseorang tengah dilanda rasa kegelisahan, kecemasan, serta kesedihan pada jiwanya. Herannya banyak orang yang bangga mengatakan dirinya sedang galau. Entah itu pejabat, pegawai, buruh, pengangguran, kaya, miskin, tua, muda, pelajar ataupun santri telah latah mengkampanyekan ‘galau’ di negeri kita ini.

Keresahan akan senantiasa menghantui hidup manusia apabila pikirannya dibiarkan terombang-ambing oleh permasalahan hidup. Apalagi keyakinannya pada keberadaan Allah Subhanahu Wata’ala sebagai penolong masih terjebak dalam ritual adat-istiadat semata, sehingga berhala menjadi tempat pengaduannya. Fenomena tersebut begitu jelas di depan mata kita dan terjadi pada sebagian besar umat Islam. Kesibukkan dan rutinitas menjebak mereka yang merasa ‘galau’ untuk mengambil langkah pragmatis dalam penyelesaian problema hidup.

Pada dasarnya, manusia adalah sosok makhluk yang lemah dan bergelimang dosa. Wajar jika disebut sebagai makhluk yang paling sering dilanda kecemasan, apalagi ketika dihadapkan pada permasalahan hidup. Inilah fitrah bagi setiap insan yang memiliki akal pikiran dan tidak perlu dirisaukan karena Allah Subhanahu Wata’ala telah menyiapkan penawarnya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala di dalam Al-Qur’an surat Ar-Ra’d ayat ke 28 yang artinya :

الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram.”
Orang yang senantiasa mengingat Allah Subhanahu Wata’ala Ta’ala dalam segala hal yang dikerjakannya, tentu akan memiliki dorongan positif pada diri dan jiwanya. Karena dengan mengingat Allah Subhanahu Wata’ala dalam menghadapi segala persoalan, dijamin pikirannya akan cerah dan bijak serta jiwanya diselimuti ketenangan akan datangnya bantuan Allah Subhanahu Wata’ala. Dan sudah merupakan janji Allah Subhanahu Wata’ala Ta’ala, bagi siapa saja yang mengingatnya, maka didalam hatinya pastilah terisi dengan ketentraman-ketentraman yang tidak bisa didapatkan melainkan hanya dengan mengingat-Nya.
Logikanya, jika pejabat ingat pada Allah Subhanahu Wata’ala maka dia akan merasa diawasi oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam menjalankan amanahnya. Dan dengan demikian, peluang berbuat curang apalagi sampai menilap hak rakyat dapat terminimalisir. Begitu juga remaja dan pemuda yang senantiasa menjalin kedekatan dengan Allah Subhanahu Wata’ala, maka kehidupannya memiliki arah pasti yang jauh dari pengaruh bisikan hedonis. Ditambah lagi rakyat secara keseluruhan menghidupkan nilai-nilai ke-Tuhan-an dalam aktivitasnya setiap saat, maka aroma religious akan mampu memberikan kedamaian pada jiwa-jiwa manusia.
Terkhusus umat Islam, jika benar-benar menjalankan dan mengindahkan semua syari’at yang telah dibawa Rasulullah, sudah barang tentu kejayaan umat peradaban akan kembali mewarnai dunia ini. Sejarah peradaban Islam telah membuktikan bahwa tidak ada istilah ‘galau’ pada umat manusia ketika aturan-aturan Allah Subhanahu Wata’ala ditegakkan di atas bumi ini. Artinya, Islam adalah ajaran yang menentang ‘galau’ karena syari’at Islam adalah rahmatan lil ‘alamin.
Ayat-ayat penawar galau

Ayat pertama, berserah kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Kita sangat dituntut untuk memiliki semangat bekerja keras, namun apapun hasilnya harus diserahkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Sebagaimana telah berfirman Allah Subhanahu Wata’ala yang artinya: 

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ

وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.“ (QS: al Insyirah: 7-8).

Dengan berserah kepada Allah Subhanahu Wata’ala, kita akan melakukan apapun dengan ketenangan dan kenyamanan bathin karena ada jaminan Allah Subhanahu Wata’ala yang senantiasa memelihara ciptaan-Nya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْراً

“Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah  akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah   melaksanakan urusan yang (dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah  telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaaq : 3).

Ayat kedua, bersabar karena Allah Subhanahu Wata’ala. Bersabar disini bukan berarti menunggu dan pasrah begitu saja, sabar dalam artian menerima takdir Allah Subhanahu Wata’ala sebagai yang terbaik dan senantiasa mempersiapkan diri untuk melakukan yang terbaik pula. Allah Subhanahu Wata’ala menegaskan di dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat ke 200 yang artinya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اصْبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

 “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala, supaya kamu beruntung.”
Dan sesungguhnya dengan bersabar Allah Subhanahu Wata’ala sedang menyertai kita. Bukankah suatu kemuliaan bagi manusia jika sang Maha Pencipta sudi menyertai hidupnya? Inilah janji Allah Subhanahu Wata’ala Allah Subhanahu Wata’ala Ta’ala dalam firman-Nya;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ ﴿١٥٣

“Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah:153).

Ayat ketiga, berteguh hati dan fikiran. Flash-back terkait makna ‘galau’ jika dipahami keresahan hati, maka kita sebagai umat Islam harus memiliki keteguhan hati dan fikiran bahwa Allah Subhanahu Wata’ala telah mengatur semesta alam ini. Jadi, tidak ada lagi kebimbangan mau jadi apa dan kemana masa depan kita, yang penting lakukanlah apa yang terbaik yang dapat dilakukan. Berikut Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَقُلِ اعْمَلُواْ فَسَيَرَى اللّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah Subhanahu Wata’ala) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah : 105)

Ayat keempat, sedih dilarang Allah Subhanahu Wata’ala.
Sebagai umat Islam, kita harus merasa beruntung dalam berbagai hal kehidupan. Karena Islam telah merangkum aturan hidup manusia hingga akhir zaman, dan tidak sepatutnya seorang hamba Allah Subhanahu Wata’ala bersedih kecuali sedih karena dosanya. Allah Subhanahu Wata’ala memotivasi kita dalam firman-Nya;

لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا

“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala bersama kami.” (QS. At Taubah: 40)

Ayat kelima, menghadap Allah Subhanahu Wata’ala.
Adukanlah semua permasalahan kepada Allah Subhanahu Wata’ala karena pasti Allah Subhanahu Wata’ala mempunyai semua solusinya. Sangat wajar jika kita menemui masalah dalam menjalani kehidupan ini, namun jangan pernah mundur atau takluk pada permaslahan itu. Allah Subhanahu Wata’ala sudah mengingatkan hamba-Nya di dalam ayat yang dibaca setiap muslim minimal 17 kali dalam sehari:

يَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mulah kami menyembah, dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan.” (QS. Al Fatihah 5)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat dari Allah Subhanahu Wata’ala yang mendorong umat Islam untuk tidak menjadi bagian dari orang yang mengkampanyekan ‘galau’, karena dengan berkoar-koar dirinya dalam ke-galau-an maka dia telah menurunkan derajatnya menjadi manusia yang tidak bersyukur dan enggan berfikir.
Kesimpulannya, umat Islam dilarang mengatakan ‘galau’ jika itu berimbas pada perilakunya yang kemudian menduakan Allah Subhanahu Wata’ala. Al-Quran dan As-Sunnah telah disempurnakan dalam merangkum aturan hidup manusia, sehingga tiada lagi problematika hidup jika kita bersandar pada sang pencipta kehidupan. Dan Islam pernah membuktikan dalam berabad-abad lamanya, yakni mampu memakmurkan kehidupan makhluk di jagat raya ini.
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِي

“dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS . Al-Anbiya’ : 107).*/Zainal Arifin (www.hidayatullah.com)

Optimisme dan Pesimisme

Sabtu, 14 April 2012

"Janganlah berputus asa atas rahmat Allah. Sungguh, tiada orang yang berputus asa atas rahmat Allah, kecuali orang yang kafir". (QS : Yusuf : 87)

Saya tidak pernah membayangkan bahwa dalam hati orang yang beriman kepada Allah dapat dihinggapi penyakit putus asa dan pesimis. Betapapun gelapnya jalan yang akan dilalui, beratnya penderitaan yang menimpa, dan tegarnya halangan merintang.

Al-Qur'an menempatkan rasa putus asa ini sekedudukan dengan kekufuran dan menyejajarkan dengan kesesatan.

Firman-Nya :
"Tiada yang berputus harapan mengenai rahmat Tuhannya kecuali orang-orang yang sesat". (QS : al-Hijr : 56)

Dan al-Qur'an juga telah menegaskan adanya undang-undang alam (sunatullah) yang tak kan berganti.
Firman-Nya:

"Begitulah hukum Allah yang berlaku terhadap orang-orang yang terdahulu, dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada hukum Allah itu". (QS : al-Ahzab : 56)

Sesungguhnya hari-hari itu beredar diantara manusia, senantiasa berganti dan bertukar, keadaan pun senantiasa berubah. Orang yang kuat tidak selamanya kuat, yang berkuasa tidak selamanya berkuasa, yang lemah tidak selamanya lemah. Keadaan itu akan silih berganti menimpa umat dan bangsa, sebagaimana yang terjadi pada perorangan.

Firman-Nya :
"Dan hari-hari itu Kami pergilirkan diantara manusia, karena Allah hendak menunjukkan siapa yang benar-benar beriman dan siapa pula yang gugur diantaramu yang dapat disebut syuhada'. Namun Allah tiak menyukai orang-orang yang zalim". (QS : Ali Imran : 140).

Hikman Allah pada semua itu ialah hendak menguji orang-orang mukmin, hendak mencoba orang-orang yang benar, hendak membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Lalu dijadikannya yang buruk itu berbaku hantam sesamanya, saling menjatuhkan satu sama lain. Kemudian semua yang buruk itu ditenggelamkan dalam negara jahanam.

Firman-Nya :
"Karena Allah hendak memisakan golongan yang buruk dari golongan yang baik dan meletakkan golongan yang buruk itu diatas yang lain, semuanya bertumpang tindih sesamanya, untuk kemudian dimasukkannya ke dalam neraka jahanam. Mereka itulah orang-orang yang merugi". (QS : al-Anfal : 37)

Dan untuk memberi balasan kepada orang-orang yang benar yang konsisten dan komitmen pada kebenaran, diberi-Nya pertolongan dan kemenangan di dunia dan diberinya ganjaran dan ampunan di akhirat.

Firman-Nya :
"Dan akan kami uji kamu sehingga Kami tahu siapa diantara kamu yang berjihad dan siapa yang sabar. Dan Kami akan menguji berita-berita mengenai kamu".(QS : Muhammad :31)

"Apakah kamu kira bahwa kamu masuk surga, sedangkan Allah tiada mengenalorang yang berjihad diantara kamu dan orang yang menunjukkan kesabaran?". (QS : Ali Imran : 142)

"Apakah kamu mengira bahwa kamu masuk surga tanpa cobaan seperti yang menimpa orang yang sebelum kamu? Malapetaka dan sengsara menimpa mereka, dan hatinya demikian berguncang, sehingga Rasul dan orang yang beriman bersamanya berkata, "Bilakah datang pertolongan Allah? Sungguh pertolongan Allah selalu dekat". (QS : al-Baqarah : 214)

Ya, pertolongan itu begitu dekat manakala keadaan sudah sangat kritis, pandangan sudah layu, da hati terasa hampir lepas.

Firman-Nya :
"Sehingga apabila Rasul-rasul berputus asa dan mengira mereka dianggap pendusta, datangnya kepadanya pertolongan Kami, dan diselamatkanlah orang-orang yang Kami kehendaki. Tapi tiada hukuman Kami dapat ditolak dari kaum yang pendusta". (QS : Yusuf : 110).

Ya, hukum Allah ini tidak berbeda dengan yang berlaku kepada umat terdahulu. Betapa banyaknya umat yang asalnya lemah duduk bersimpuh, setelah sekian lama kemudian bangkit. Mereka bergerak setelah sekian lama membeku. Dan betapa banyaknya bangsa ayang asalnya hidup dalam kemewahan, naman karena mengkufuri nikmat Allah, lalu hilang eksistensinya, tidak ada lagi wujudnya. Mereka dihancurkan oleh Allah dengan kelaparan dan ketakutan gara-gara ulah mereka sendiri.

Firman-Nya :
"Allah membuat perumpamaan sebuah negeri yang aman tentram, rizkinya berlimpah ruah dari setiap penjuru, namun penduduknya ingkar akan nikmat Allah, maka Allajh merasakan kepada lapar, dan ketakutan meliputinya sebagai pakaian, disebabkankejahatan mereka lakukan". (QS : An-Nahl : 112)

"Dan betapa banyak Kami binasakan penduduk negeri yang menyombongkan mata pencahariannya.Sekarang tempat-tempat kediaman mereka - sesudah mereka tiada - telah ditinggalkan, kecuali beberapa. Dan Kamilah Pewarisnya". (QS : Al-Qashash : 58)

"Bila Kami bermaksud membinasakan suatu negeri, Kami berikan perintah kepada mereka yang didalamnya hidup mewah (supaya patuh), namun mereka melanggar aturan. Maka sepantasnya berlaku kutukan atas mereka, lalu Kami pun membinasakannya hancur berantakan". (QS : al-Isra' : 16)

"Dan Kami beri keputusan kepada Bani Israel dalam al-Kitab : Dua kali kamu berbuat kerusakan di muka bumi, dan kamu pasti akan merasa sombong di muka bumi dengan kesombongan yang besar. Maka ketika tiba yang pertama dari kedua peringatan, Kami utus kepaamu hamba-hamba Kami yang punya kekuatan dahsyat. Mereka menggeledah bagian-bagian yang paling dalam dari rumah-rumahmu. Dan itu adalah peringatan yang pasti dilaksanakan. Kemudian Kami beri kamu lagi giliran melawan mereka, dan Kami bantu kamu dengan harta kekayaan dan anak-anak,dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar".(QS : al-Isra' : 4-6)

"Sungguh Fir'aun menyombongkan diri dalam negeri dan menjadikan penduduknya terpecah-belah dengan menindas segolongan dari mereka. Ia sembelih putera-putera mereka dan dibiarkannya hidup anak-anak perempuannya. Sungguh ia masuk golongan yang merusak. Kami ingin memberi karunia kepada mereka yang tertindas dimuka bumi, menjadikan mereka pemimpin-pemimpin dan pewaris-pewaris,dan Kami teguhkan mreka diatas bumi. Dan Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Hamam berserta tentaranya apa yang mereka kuatirkan dari mereka itu". (QS : al-Qashash : 4-6)

Al-Qur'an sebagai firman Allah ini, menegaskan bahwa Allah akan memberikan bantuan kepada orang-orang yang sabar yang tidak pernah dihinggapi rasa pesimis dan putus harapan bahwasanya mereka akan memperoleh kekuatan karena rahmat dan kekuasaan Allah. Suatu kekuatan yang melebihi kekuatan semua makhluk.Suatu kekuatan yang tak dapat dicapai oleh usaha manusia semata-mata,dan .. tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri.

Firman-Nya :
"Mereka yang kepadanya orang berkata : "Orang-orang telah berkumpul akan melawan kamu, maka takutilah mereka!" Tapi mereka bertambah imannya karenanya, dan mereka berkata, "Allah cukup bagi kami, dan Ia lah sebaik-baik pengatur segara urusan". Dan mereka pun kembali dengan nikmat dan karunia dari Allah. Tiada bencana menyentuhnya, karena mereka mengikuti keridhaan Allah.Dan Allah pemiliki karunia yang tiada tepermanai. Itu hanyalah syetan menakuti-nakuti dengan kawan-kawannya. Maka janganlah kamu takut kepadanya, tapi takutlah kepada-Ku, jika kamu beriman".(QS : Ali Imran : 173-175)

"Dua orang laki-laki diantara orang yang taqwa, yang beroleh karunia dari Allah, berkata, "Masuklah kamu menemui mereka melalui pintu gerbang. Jika kamu telah masuk ke dalam, pastilah kamu menang. Tawakallah kepaa Allah,jika kamu orang beriman". (QS : Al-Maidah : 23)

Kadang-kadang tidak terlintas hati orang-orang mukmin yang sabar itu bahwa mereka akan dapat mencapai hal ini dengan begitu muah, atau akan terwujud apa yang mereka cita-citakandan mereka harapkan. Memang Allah Yang Mahaluhur mendekatkan kepada mereka apa-apa yang jauh, memudahkan apa yang sukar, dan menyempurnakan pertolongan kepada mereka tanpa mereka duga sebelumnya.

Firman-Nya :
"Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafirdari kalangan ahli kitab dari rumah mereka sendiri pada waktu pengusiran pertama kali. Tiada kamu sangka mereka akan keluar, dan mereka menyangka dapat bertahan dalam benteng-bentengnya terhadap Allah. Lalu hukuman Allah datang kepada mereka dari tempat yang tiada mereka sangka. Dan Ia lontarkan ketakutan dalam hati mereka. Mereka hancurkan rumah-rumah mereka dengan tangan-tangan mereka sendiri dan tangan-tangan orang beriman. Maka ambillah ini sebagai pelajaran,wahai orang-orang yang punya pandangan tajam! Sekiranya Allah tiada menentukan pengusiran bagi mereka, tentulah Ia telah siksa mereka di dunia, sedang di akhirat mereka pasti mendapat siksaan api neraka". (QS : al-Hasyr : 2-3).

"Dan Allah menghalau orang-orang kafir yang penuh kemarahan, sehingga mereka tiada memperoleh keuntungan. Dan cukuplah Allah bagi orang-orang mukmin dalam perangnya. Allah Mahakuat, Maha Perkasa.Ia turunkan  orang-orang ahli kitab yang menolong mereka dari benteng-bentengnya, dan Ia masukkan ketakutan dalam hati mereka. Sebagian kamu bunuh dan sebagian lagi kamu tawan. Dan Ia jadikan kamu pewaris tanah-tanah,rumah-rumah,harta henda mereka,dan tanah yang belum pernah kamu injak sebelumnya. Allah berkuasa atas segala se suatu". (QS : al-Ahzab : 25-27)

Maka, wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Kitab al-Qur'an yang mulia ini, apakah pantas anda mengatakan, "Apakah yang akan kita perbuat? Padahal kita hanyalah kaum yang lemah sedangkan mereka adalah bangsa yang kuat?".

Apakah dapat dikatakan sebagai sikap yang baik, jika salah seorang dari kalian surut ke belakang?Padahal dalam  hatinya terdapat rasa optimisme yang besar dan dibelakangnya ada pertolongan yang akan menguatkan barisan perjuangannya ..? Wallahu'alam.

Kebersungguhan Da’i pada Diri Sendiri

Jumat, 23 Maret 2012

Seorang da’i harus menjadikan segala sesuatu dalam dirinya, jasad dan jiwanya, diliputi nuansa rabbaniyah. Dan hal ini hanya dapat dilakukan tatkala ia mampu menjadikan dirinya suci dari hal-hal yang diharamkan Allah. Yang pertama harus dilakukannya adalah membebaskan tubuhnya dari berbagai macam makanan yang haram, baik itu haram karena zatnya, haram karena asalnya, tidak baik zatnya, ataupun tidak baik asalnya.
Kemudian, ia harus menjaga penciumannya, pendengarannya, pikirannya, pergaulannya, dan penglihatannya dari hal-hal yang diharamkan Allah atau yang tidak berhak untuk dinikmatinya.

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.’” (An Nur: 30-31)

Ia juga harus menjauhi tempat-tempat yang dapat, dan mudah mendatangkan maksiat, lebih-lebih yang merupakan tempat maksiat.

Imam Hasan Al Banna berkata, “Hendaklah engkau berjuang meningkatkan kapasitasmu dengan sungguh-sungguh agar engkau dapat menerima tongkat kepemimpinan. Hendaklah engkau menundukkan pandanganmu, menekan emosimu, dan memotong habis selera-selera rendah dari jiwamu, bawalah ia hanya untuk menggapai yang halal dan baik, dan hijabilah ia dari yang haram, dalam keadaan bagaimanapun.  Hendaklah engkau jauhi khamr dan seluruh makanan atau minuman yang memabukkan sejauh-jauhnya. Hendaklah engkau menjauh dari pergaulan dengan orang jahat dan persahabatan dengan orang yang rusak, serta jauhilah tempat-tempat maksiat. Hendaklah engkau perangi tempat-tempat iseng; jangan sekali-kali mendekatinya, dan hendaklah engkau jauhi gaya hidup mewah dan bersantal-santai.” Selanjutnya, hendaklah ia banyak bertaubat untuk mensucikan dirinya dari berbagai khilaf, salah, dan dosa yang seringkalai dilakukannya tanpa disadarinya.

“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (Az Zumar: 53)
Hendaklah ia juga selalu menyertakan niat jihad dalam dirinya, bersedekah di jalan Allah, bershabar terhadap cobaan yang menimpanya, berlaku jujur antara lidah, hati, dan badannya, memerangi dorongan-dorongan nafsu dirinya, dan tidak berlebihan dalam mengkonsumsi yang mubah.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa mati (dalam keadaan) belum pernah berperang dan tidak pernah terbersit dalam benaknya keinginan berperang, maka ia mati dalam keadaan munafik.” (HR Muslim dan Abu Dawud)

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,  (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran: 133-134)

“Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran.” (An Nisa’: 135)

Seorang da’i hendaklah mampu menata urusannya, dari urusan pribadi, urusan keluarga, urusan pekerjaan, urusan masyarakat, urusan umat, dan urusan da’wah. Dalam menata urusan pribadinya, hendaklah pertama-tama ia mampu menjalankan sepuluh fithrah (kesucian) bagi seorang muslim.

Dari Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Sepuluh perkara termasuk fithrah: memangkas kumis, memelihara jenggot, bersiwak (menyikat gigi), menghirup air ke hidung, menggunting kuku, mencuci lekuk-lekuk jari, mencabut rambut ketiak, mencukur rambut kemaluan, dan beristinja’.” Mush’ab bin Syaibah, salah seorang rawinya berkata, “Aku lupa yang ke sepuluh, mungkin berkumur.” (HR Muslim, At Tirmidzi, dan Ahmad)

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim, terdapat tambahan, yakni berkhitan.
Seorang da’i hendaknya juga berpakaian yang bersih, menutup aurat, rapi, dan indah. Hal ini untuk membangun citra da’i, citra da’wah, dan citra Islam, serta memberikan kesan yang dalam kepada obyek da’wah.

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (Al A’raf: 26)

Hendaknya ia juga menata berbagai benda yang ada di sekitarnya, misalnya arsip, buku, dokumen, dan ide-ide yang muncul dari letupan pikirannya. Penting untuk menyusun, menata, dan mencatatnya karena sangat mungkin pada suatu saat, ide kreatif tersebut perlu dikembangkan menjadi sesuatu yang bernilai.

Di dalam sebuah organisasi, hendaknya ia juga memberitahukan dan melaporkan berbagai masalah yang timbul serta kejadian-kejadian tertentu kepada pemimpinnya. Hal ini untuk memperbaiki dan memberikan solusi atau tanggapan secara cepat dan tepat terhadap masalah atau kejadian tersebut. Jangan sampai di dalam sebuah organisasi muncul permasalahan besar dikarenakan tumpukan permasalahan kecil yang tidak terselesaikan. (sumber: www.fimadani.com)

Lima Sebab Melemahnya Iman Aktivis Dakwah

Selasa, 28 Februari 2012

 Kelemahan yang paling lemah dan melemahkan seorang muslim adalah lemah iman. Dengan mengetahui sebabnya, diharapkan kita mampu mengatasinya, sehingga iman kita semakin kuat dan kokoh.

Berikut ini 5 sebab kelemahan iman, khususnya pada aktifis dakwah :

Tenggelam dalam Kesibukan Duniawi
Tak seorang pun yang luput dari urusan dunia, termasuk seorang dai. Bahkan Al-Qur’an sendiri mengingatkan kita agar mencari akhirat tanpa melupakan dunia. Namun, ketika kesibukan dunia yang menguasai jiwa, ketika seseorang tenggelam dalam kesibukan duniawi, maka iman akan melemah segera.

”Kami telah disibukkan oleh harta dan keluarga kami, maka ampunilah kami.”

Lalai terhadap Faktor Penguat Iman
Lalai dalam mengetahui faktor-faktor yang dapat menguatkan dan meningkatkan iman kepada Allah adalah sebab melemahnya iman. Yakni ketika seseorang tidak memahami dan mengamalkan bahwa ibadah, dzikir, dan kebajikan itulah penguat iman. Saat seseorang menambah kebaikan, sejatinya ia meningkatkan iman. Sebaliknya, siapa yang memilih malas-malasan dari beramal kebajikan, pada saat yang sama ia telah membuat imannya lemah.

Sebagian sahabat berkata, “Iman itu bertambah dan berkurang. Ia bertambah dengan ketaatan dan zikir kepada-Nya, ia berkurang dengan kemaksiatan dan lupa kepada-Nya.”

Menumpuknya Aktifitas dan Beban yang Membuat Ruh dan Jiwa Kehilangan Haknya
Aktifitas yang padat dan beban kerja yang menumpuk -termasuk aktifitas politik dan kerja-kerja sosial- jika tidak dimenej dengan baik akan berakibat pada melemahnya iman. Mengapa? Karena padatnya aktifitas dan menumpuknya beban kerja bisa menjadikan seseorang mengabaikan hak-hak ruh dan jiwanya. Ketika hak-hak ruhiyah itu tak dipenuhi, kegersangan jiwa terasa. Hilangnya sikap bijaksana, pudarnya ketenangan dan kedamaian, dan sempitnya dada adalah indikasi melemahnya iman akibat hak ruh yang tak tertunaikan ini.

Mengejar Target Dakwah, Melupakan Penguat Iman
Ada sebagian aktifis yang sangat bersemangat dalam aktifitas dakwah untuk mengejar target-target kuantitas, namun ia lupa faktor-faktor yang dapat meningkatkan iman. Ia menyeru orang lain, namun meninggalkan dirinya sendiri. Merasa kesibukan sebagai aktifis dan pekerjaan dakwah sudah cukup menjamin menguatnya iman.

Aktifitas dan Peran yang Tak Seimbang
Seorang Muslim, khususnya seorang dai, pasti memiliki lebih dari satu peran dalam hidupnya. Ada peran keluarga sebagai suami (bagi yang sudah menikah), ayah (bagi yang telah memiliki anak), anak (khususnya bagi aktifis muda yang belum menikah), karyawan atau pimpinan di tempat kerja, anggota masyarakat di lingkungannya, organisatoris dan aktifis di organisasinya yang kadang-kadang lebih dari dua, dan seterusnya.

Ketika aktifitas hanya difokuskan pada satu peran, sementara pada banyak peran yang lain ia abai kemudian gagal, maka iman bisa melemah karena ia akan tersibukkan dengan banyak lubang masalah yang ia gali sendiri. Aktifitas yang seimbang, pemenuhan semua peran dengan seimbang lebih menjamin seorang aktifis dakwah untuk tidak hanya imannya tak terganggu dari arah itu, namun juga membuatnya menjadi lebih ideal. [sumber: www.bersamadakwah.com]

Tiga Faktor Penyebab Halaqoh Bubar

Berikut ini adalah tiga cara cepat membubarkan halaqah yang disampaikan oleh ustadz Farid Dhofir, Ketua Bidang Kaderisasi DPW PKS Jawa Timur. Jika ketiga hal berikut dilakukan oleh murabbi, dalam waktu yang tidak lama kemudian, dijamin halaqah (khususnya halaqah awal) yang dipegangnya akan bubar.

Datang Terlambat
Menunggu adalah hal yang menjemukan bagi banyak orang, termasuk mutarabbi baru. Apalagi jika menunggu kedatangan murabbi yang tidak jelas apakah ia datang atau tidak, jadi halaqah atau tidak. Semakin lama murabbi terlambat, detik demi detik terasa semakin lama, mencemaskan sekaligus menjemukan.

Pada menit ke-25 dari keterlambatan murabbi setengah jam, mungkin mutarabbi sudah memutuskan untuk pulang dan berjanji pekan berikutnya takkan kembali. Atau mungkin mutarabbi bertahan menunggu, namun sudah ada catatan di benaknya: "orang seperti ini tak layak jadi murabbi. Ia tak menghargai waktu, apa mungkin ia bisa menghargai hal-hal lainnya. Halaqah mungkin masih berjalan, namun ruhnya jadi hilang; tak ada kepercayaan. Akhirnya pun bernasib sama: bubar.

Tanpa Persiapan
Yakni murabbi datang ke halaqah tanpa mempersiapkan materi/madah yang akan disampaikan. Ia hanya datang namun tidak membawa bekal. Materi yang disampaikan seingatnya saja, sama sekali tak berpedoman manhaj. Sudah begitu ia pun tak menguasai apa yang ia sampaikan, jadilah ia gado-gado ngalor ngidul tak karuan.

Materi yang kacau itu ditangkap mutarabbi. Ketidaksiapan itu tampak jelas di hadapan mutarabbi. Maka halaqah yang baru itu langsung memperoleh kesimpulan: "tak banyak manfaatnya berlama-lama di forum ini, lebih baik baca buku sendiri." Lalu bubarlah halaqah itu tak lama lagi.

Sibuk dengan HP
Jika murabbi tidak mematikan hp, tidak juga men-silent-nya, lalu beberapa kali halaqah yang baru itu terganggu nada dering, percakapan murabbi lewat hp-nya, tangannya disibukkan dengan sms, BBM, dan sejenisnya, mutarabbi yang merasa tidak diperhatikan cenderung tak lama bertahan. Lalu nasib halaqah pun wassalam.

Semakin lengkap ketiga poin ini dilakukan murabbi, semakin cepat halaqah itu bubar. Maka jika antum tak ingin halaqah cepat bubar, hindari ketiga hal tersebut. 

sumber: www.bersamadakwah.com

Kesederhanaan Ala Rasulullah SAW

Senin, 20 Februari 2012

dakwatuna.com - Kesederhanaan akhir-akhir ini menjadi makhluk langka, apalagi di tengah-tengah perkotaan yang megah. Kesederhanaan identik dengan kebodohan dan kemiskinan. Mereka beranggapan bahwa kesederhanaan adalah hidup yang susah dan identik dengan kehidupan yang menderita, padahal anggapan seperti ini adalah anggapan yang keliru dan jauh dari apa yang telah di ajarkan oleh Rasulullah SAW.  Sudah seharusnya dalam kehidupan kita sehari hari untuk selalu meneladani gaya hidup ala Rasulullah tercinta. Karena hidup sederhana bukanlah berarti hidup susah dan menderita karena semua keinginannya tidak terpenuhi, bukan berarti juga meninggalkan kesenangan dunia tapi, kita harus sadar bahwa di setiap kesenangan pasti akan dimintai pertanggungjawabannya, sementara kita sering lupa bahwa kita akan mempertanggungjawabkan nikmat yang kita terima. Seperti:

“Kemudian sungguh, pada hari itu kamu akan ditanya tentang kenikmatan yang kamu peroleh hari ini (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. Al-Takatsur [102]: 8)

Kisah kesederhanaan Rasulullah SAW terekam dalam sebuah hadits yang menceritakan betapa beliau tidak mempunyai keinginan menumpuk harta, walaupun jikalau mau sangatlah mudah baginya. Ketika Islam telah berkembang luas dan kaum muslimin telah memperoleh kemakmuran, Sahabat Umar bin Khattab RA berkunjung ke rumah Rasulullah SAW ketika dia telah masuk ke dalamnya, dia tertegun melihat isi rumah beliau, yang ada hanyalah sebuah meja dan alasnya hanya sebuah jalinan daun kurma yang kasar, sementara yang tergantung di dinding hanyalah sebuah geriba (tempat air) yang biasa beliau gunakan untuk berwudhu. Keharuan muncul dalam hati Umar Ra. Tanpa disadari air matanya berlinang, maka kemudian Rasulullah saw menegurnya. “Gerangan apakah yang membuatmu menangis?” Umar pun menjawabnya, “bagaimana aku tidak menangis Ya Rasulullah? Hanya seperti ini keadaan yang kudapati di rumah Tuan. Tidak ada perkakas dan tidak ada kekayaan kecuali sebuah meja dan sebuah geriba, padahal di tangan Tuan telah tergenggam kunci dunia Timur dan dunia Barat, dan kemakmuran telah melimpah.” Lalu beliau menjawab “Wahai Umar aku ini adalah Rasul Allah, Aku bukan seorang Kaisar dari Romawi dan bukan pula seorang Kisra dari Persia. Mereka hanya mengejar duniawi, sedangkan aku mengutamakan ukhrawi.

Kata-kata Aku bukan Kaisar Romawi, Aku bukan Kisra Persia, tidak berarti Rasulullah tidak memiliki kesempatan, mengingat keterangan Umar bahwa di tangan Rasulullah-lah tergenggam kunci dunia Timur dan dunia Barat. Namun niat Rasulullah saw dalam kalimat terakhir itu merupakan kata paling berharga “Mereka hanya mengejar duniawi, sedangkan aku mengutamakan ukhrawi.” Apa yang diisyaratkan Rasulullah saw sangatlah jelas, bahwa tidak selamanya hidup dengan kemewahan dan gelimang harta adalah berkualitas, justru sebaliknya. Seringkali kehidupan semacam itu menjadikan hidup terasa kering dan sunyi, sombong dan akan lebih menjauhkan diri kita dari cinta dan kasih Allah. Kondisi seperti ini adalah seburuk buruk hati, bukankah Allah sangat membenci sesuatu yang serba berlebih lebihan? Ingatlah kesederhanaan adalah kemuliaan, kesederhanaan baru bisa terwujud kala kita menyadari bahwa hidup di dunia hanyalah persinggahan dari perjalanan panjang manusia menuju Tuhan.

Da’i Harus Benar Ibadahnya

Sabtu, 18 Februari 2012

Setelah memahami dasar aqidah yang kokoh dan kuat dalam membentuk karakteristik muslim, maka selanjutnya adalah dengan membentuk karakteristik ibadah. Ibadah disini merupakan sebuah pengejawantahan kekokohan aqidah, yakni melaksanakan apa yang telah disyari’atkan oleh aqidah itu. Ibadah tidak hanya mencakup shalat, puasa, zakat, dan haji saja, namun seluruh urusan hidup karena risalah kita dalam hidup ini adalah beribadah kepada Allah. Dan ibadah itu bukanlah kebutuhan Allah, namun merupakan kebutuhan makhluk.

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.”  (Adz Dzariyat: 56-57)

Seorang da’i harus mengetahui bahwa ibadah-ibadah yang dilakukan merupakan satu bentuk ketundukan atas ketuhanan Allah. Sehingga seseorang akan melaksanakan ibadah tanpa perlu mengetahui maksud dari pensyari’atan itu, namun ia juga harus mengetahui tujuan-tujuan dan hikmah-hikmah umum pensyari’atan ibadah tersebut. Dan dalam beribadah ia menghadirkan rasa takut, harap, dan cinta kepada Allah.

Ibadah merupakan satu bentuk siklus dengan faktor kemanusiaan dan ketakwaan. Takwa bukan hanya merupakan hasil ibadah, namun ia merupakan satu bentuk metode untuk beribadah juga. Agar dapat melaksanakan kelezatan ibadah, maka diperlukan pengawasan melekat diri dari Allah (muraqabah), mengingat dan merumuskan visi dan misi (mu’ahadah), melakukan evaluasi (muhasabah), menetapkan konsekuensi dengan memberikan hukuman dan penghargaan (mu’aqabah), serta bersungguh-sungguh dalam melakukan perjuangan (mujahadah).[1]

“Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (Al Mujadilah: 6)
“Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan, ‘Kami dengar dan kami taati.’ Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mengetahui isi hati(mu).” (Al Ma’idah: 7)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Hasyr: 18)

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al Ankabut: 69)

Diriwayatkan bahwa Abu Thalhah menyedekahkan kebunnya karena ia merasa hatinya tidak khusyu’ di dalam shalat karena terganggu oleh seekor burung di kebunnya, ia melakukannya sebagai bentuk hukuman kepada dirinya.

Ibadah yang diterima oleh Allah adalah yang disyari’atkan atau diperintahkan oleh Allah, dilaksanakan dengan ikhlas dan caranya mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasulullah. Jika seseorang melakukan sesuatu yang baru dalam bentuk ibadah, maka otomatis ibadah itu tertolak.

Dari Aisyah, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa memunculkan di dalam agama kami ini sesuatu yang bukan berasal darinya, maka dia tertolak.” (HR Bukhari dan Muslim)

Imam Hasan Al Banna berkata, “Setiap bid’ah dalam agama Allah yang tidak ada pijakannya tetapi dianggap baik oleh hawa nafsu manusia, baik berupa penambahan maupun pengurangan, adalah kesesatan yang wajib diperangi dan dihancurkan dengan menggunakan cara yang sebaik-baiknya, yang tidak justru menimbulkan bid’ah lain yang lebih parah. Perbedaan pendapat dalam masalah bid’ah idhafiyah, bid’ah tarkiyah, dan iltizam terhadap ibadah mutlaqah (yang tidak diterapkan, baik cara maupun waktunya) adalah perbedaan dalam masalah fiqih. Setiap orang mempunyai pendapat sendiri. Namun tidaklah mengapa jika dilakukan penelitian untuk mendapatkan hakikatnya dengan dalil dan bukti-bukti.”[2]

Bid’ah terdiri dari beberapa macam, yakni bid’ah haqiqiyah, bid’ah idhafiyah, bid’ah tarkiyah, dan bid’ah iltizam.

Bid’ah haqiqiyah (penambahan) adalah bid’ah yang sebenar-benarnya, semua ulama sepakat atas kebid’ahannya. Bid’ah idhafiyah adalah segala sesuatu yanag akarnya disyari’atkan, namun sifat dan, tatacara, dan perinciannya tidak didasarkan atas dalil, seperti memngeraskan suara saat membaca shalawat setelah dikumandangkan adzan sebagaimana yang dilakukan sebagian kaum muslimin. Contoh lainnya adalah berdzikir dengan suara keras. Secara hukum, dzikir itu disyari’atkan dan mengeraskan suara itu tidak disyara’iatkan. Oleh karena itu, ia merupakan amalan bid’ah ditinjau dari caranya.

Bid’ah tarkiyah (penolakan) merupakan satu bentuk aktivitas meninggalkan apa yang sebenarnya diperkenankan syari’at dengan maksud keagamaan. Misalnya praktik sebagian ahli tasawuf yang meninggalkan makanan yang hukumnya halal dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah dan menyiksa diri. Praktik seperti ini termasuk bid’ah karena mengharamkan sesuatu yang halal.

Sedangkan bid’ah iltizam adalah berkomitmen terhadap ibadah-ibadah mutlaq yang sebenarnya sudah ditentukan, akan tetapi berupaya memberi ketentuan tentang waktu, tempat, bilangan, dan ucapan yang tidak didasari syari’at lalu berkomitmen untuk selalu mengamalkan hal itu. Misalnya membaca secara rutin adzkar pada setiap malam Jum’at dengan bilangan tertentu. Membaca surat Al Ikhlas 100 kali setelah shalat subuh atau waktu tertetu yang dipilihnya, atau membaca surat Kahfi pada malam Jum’at dengan cara tertentu pula. Kadang-kadang amalan seperti ini akan berbahaya bagi pelakunya karena memungkinkan bagi jin untuk merasuki raganya sebagaimana yang terjadi pada banyak pesantren tradisional.

Dari Abdul Aziz bin Abi Al Majisyun, bahwa Umar bin Abdul Aziz berkata, “Berhentilah dimana Rasulullah dan para shahabat berhenti, karena dengan ilmu mereka berhenti, dan dengan pandangan yang tajam mereka menahan diri. Sungguh, merekalah orang yang paling  bisa membuka tabirnya dan merekalah orang yang paling berhak mendapatkan keuntungan. Jika kalian berkata, ‘Hal ini terjadi setelah mereka.’ Maka tidaklah ada yang membuat sesuatu yang baru setelah mereka kecuali orang yang menyelisihi petunjuk mereka dan benci terhadap sunnah mereka. Para shahabat telah berbicara yang mencukupi, maka orang yang berbuat lebih dari mereka adalah orang yang memberatkan dirinya, sedangkan yang berbuat kurang dari mereka adalah orang yang ceroboh. Sebagian orang yang ceroboh dari mereka kemudian menjadi orang yang kurang ajar dan jauh dari kebenaran. Sebagian lagi ada yang berbuat lebih dari mereka, maka jadilah dia orang yang melampui batas. Sedangkan orang yang berada pada posisi pertengahan akan berada dalam jalan petunjuk yang lurus.”[3]
 
Beberapa buku yang dapat mendukung pembentukan karakter da’i ini misalnya:
  1. Fiqh Sunnah karangan Syaikh Sayyid Sabiq
  2. Ta’mimuth Thaharah Wash Shalah karangan Syaikh Hasan Ayyub
  3. Mau’idhatul Mu’minin (Min Ihya-i Ulummud Din) karangan Al Allamah Al Qasimi
  4. Al Ibadah Fi Al Islam karangan Dr. Yusuf Qardhawi[4]
Pembentukan karakter pertama dan kedua ini merupakan salah satu pilar pembinaan ruhaniyah. Rasulullah dibina oleh Allah dan membina para sahabatnya dengan menekankan pada pembinaan ini. Allah memerintahkan Rasulullah untuk mendirikan shalat malam di awal periode kenabian. Shalat malam yang diwajibkan pada permulaan masa da’wah ini merupakan pelatihan intensif dan keras  untuk komitmen dan taat kepada perintah Allah selama satu tahun penuh. Dengan bekal penyucian ruhani ini, maka seorang da’i akan mampu menahan kerasnya perlawanan dari musuh-musuh da’wah yang terus menerus memeranginya.

“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan.” (Al Muzammil: 1-4)

“Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. (Dia-lah) Tuhan masyrik dan magrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung. Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (Al Muzammil: 8-10)

Syaikh Munir Muhammad Al Ghadban berkata, “Para penyeru ke jalan Allah sangat memerlukan senjata ini, dalam melaksanakan tugas da’wah yang selalu menghadapi berbagai rintangan dan gangguan. Jika pada tahapan seperti ini gerakan Islam tidak memperhatikan aspek ibadah , aspek ruhiyah, qiyamul lail yang rutin dan berkesinambungan, dan daurah-daurah secara berulang-ulang untuk ‘hidup terus,’ pasti akan menyaksikan para prajuritnya berjatuhan satu demi satu dan rontok oleh benturan tribulasi.”[5]

“Sesungguhnya,” lanjut beliau, “Pemuda muslim yang menjalani masa mudanya dengan tekun beribadah dan taat, rutin dan kontinyu untuk membaca Al Qur’an,  kedua kakinya letih karena qiyamul lail, dzikrullah di tempat sunyi hingga kedua matanya meneteskan air mata, hatinya selalu terpaut dengan masjid, selalu membasahi bibirnya dengar adzkar dan ayat-ayat Al Qur’an siang dan malam, hati  dan pikirannya dibentuk oleh Al Qur’an, adalah pemuda ideal yang harus diwujudkan oleh gerakan Islam. Jika masalah ini tidak mendapat perhatian yang memadai, maka akan mengakibatkan bangunan menjadi rapuh dan rontok oleh pukulan-pukulan pertama para thaghut.”[6]

Pof. Dr. Abdullah Nashih Ulwan berkata, “Kini kita akan menuju terminal dimana Anda bisa menghirup napas keimanan dan menambah bekal ketakwaan. Di sana, jiwa Anda akan memantulkan pancaran ruhani. Anda akan menjadi seorang yang shalih, seorang yang penuh keikhlasan. Bahkan tatkala Anda melanjutkan perjalanan, langkah akan terasa ringan, kata-kata akan berpengaruh, tingkah laku akan menjadi teladan, penampilan menjadi penuh daya tarik, serta sorotan mata Anda akan memancarkan semangat dan optimisme.”[7]

[1]  Gue Never Die
[2]  Risalah Ta’alim, dari Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin
[3]  Al Burhan Fi Bayanil Qur’an karangan Ibnu Qudamah
[4]  Divisi Wanita Ikhwanul Muslimin
[5]  Manhaj Haraki
[6]  ibid
[7] Ruhaniyatud Da’iyah

Hati-Hati Jika Kita Malas Beribadah

Sabtu, 14 Januari 2012

Pernahkah kita malas untuk pergi ke masjid, khususnya pada waktu shalat isya dan subuh? Atau kini kita sedang mengalaminya? Malas untuk shalat malam walaupun kita sempat terbangun? Mungkin kita perlu melihat sisi lain malas beribadah agar kembali bersemangat menunaikannya.

Syaikh Aidh Al Qarni mencantumkan malas beribadah ini sebagai karakter kelima orang munafik. Dalam bukunya
Tsalatsuna 'Alamatan lil Munafiqin, beliau menjelaskan hal itu seraya menampilkan karakter kebalikannya yang dimiliki kaum mukminin, yaitu semangat beribadah.

...dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas...
(QS. An-Nisa : 142)

Inilah firman Allah memotret karakter orang munafik. Mungkin orang munafik itu masih menunaikan shalat, namun ia menjalankannya dengan malas. "Orang-orang munafik pada masa dahulu," kata Aidh Al Qarni, "juga mengerjakan shalat bersama Rasulullah, tetapi mereka mengerjakannya dengan malas."


Maka, semestinya kita takut seandainya kita malas beribadah, itu menjadi pertanda kita dihinggapi kemunafikan. Malas beribadah dalam arti yang luas, tidak terbatas pada shalat. Aidh Al Qarni menjelaskan bahwa malas puasa, malas berzikir, malas menghadiri halaqah atau majelis ilmu, dan malas berdakwah juga termasuk tanda kemunafikan, sebagaimana malas shalat.


Sebaliknya, orang mukmin memiliki semangat dan vitalitas dalam beribadah. Rasulullah dan para sahabat menjadi contoh utama dalam hal ini.


Aswad bin Yazid bertanya kepada Aisyah, "Kapan Rasulullah bangun untuk shalat malam?" Aisyah menjawab, "Beliau selalu bangun jika mendengar ayam berkokok." Aisyah melanjutkan, "Lalu beliau melompat dengan suatu lompatan." (HR. Muslim)


Demikianlah semangat Rasulullah dalam beribadah. Aisyah tidak mengatakan "beliau berdiri", tetapi "beliau melompat." Subhaanallah. Benar-benar menggambarkan vitalitas dalam beribadah.


Para sahabat dan orang-orang shalih terdahulu juga memberikan contoh yang luar biasa. Mereka memiliki semangat, antusias dan vitalitas beribadah; menggambarkan luapan keimanan mereka.


"Urwah bin Zubair biasa shalat sunnah di malam hari,” kenang Ibnu Syaudzab, “dengan menghabiskan seperempat Al-Qur’an.”


“Urwah bin Zubair tidak pernah meninggalkan dzikir malam,” tambah Abdullah bin Muhammad bin Ubaid menguatkan, “kecuali saat kakinya diamputasi.”


"Selama 50 tahun,” kata Abdul Mu’in bin Idris dari ayahnya, “Sa’id bin Musayyab shalat Shubuh dengan wudhu Isya”. Hebatnya lagi, selama 50 tahun itu Sa’id bin Musayyab tidak pernah tertinggal takbiratul ula, juga tidak pernah melihat punggung jama’ah karena tidak pernah berada di shaf kedua.


Dalam hadits Rasulullah yang diriwayatkan Imam Tirmirzi semangat beribadah, khususnya shalat berjamaah dikaitkan langsung sebagai bukti keimanan.


Barangsiapa yang kalian lihat biasa ke masjid, saksikanlah bahwa ia beriman
(HR. Tirmidzi dan lain-lain)

Jika demikian halnya, adakah pilihan lain bagi kita selain memerangi kemalasan? Takutlah kita jika kemalasan tidak lain adalah tanda kemunafikan yang menghinggapi kita, meskipun itu adalah nifaq amali.

Hakekat Kemenangan Dakwah

Jumat, 13 Januari 2012

“Jika seluruh ikhwah mati,” kata Hasan Al Hudhaibi, “Itu lebih baik daripada kita sampai di puncak kemenangan dengan jalan pengkhianatan.” Masih dengan wajah serius, Mursyid Am kedua Ikhwanul Muslimin ini melanjutkan taujihnya, “Nahnu muslimun qabla kulli syai’. Kita adalah muslim sebelum segalanya. Jika kita menguasai dunia dengan membunuh akhlak Islam, maka kita rugi!”

Tersebab ada ikhwah yang tidak sabar dengan penindasan rezim revolusioner saat itu lalu ia berniat menghabisi tokoh-tokoh pemerintah yang menyiksa ikhwah, Hasan Al Hudhaibi menjadi marah dan menasehatinya dengan kalimat-kalimat di atas. Penerus Hasan Al Banna ini tidak menghendaki kemenangan dengan jalan pengkhianatan, membunuh penguasa muslim meskipun ia zalim, dan cara-cara lain yang menanggalkan akhlak Islam.

Karena kemenangan jamaah dakwah adalah untuk meninggikan Islam, bagaimana mungkin jalan ke sana ditempuh dengan cara-cara rendahan yang bertentangan dengan Islam. Karena kemenangan dakwah adalah untuk menebar rahmat bagi semesta alam, bagaimana mungkin untuk mencapainya ditempuh jalan yang mengundang azab Tuhan. Karena kemenangan perjuangan Islam adalah untuk menjadi soko guru kehidupan, bagaimana mungkin untuk ke sana digunakan upaya yang hina dan menyulut kebencian.

Kekuasaan yang tertunda karena berpegang teguh pada prinsip Islam sejatinya adalah kemenangan. “Sesungguhnya kemenangan dan tamkin bagi kaum mukminin,” tulis Ali Muhammad Ash Shalabi dalam Fiqhun Nashr wat Tamkin, “Memiliki berbagai macam wujud dan gambaran.” Maka dalam buku yang menjadi masterpiece itu ia memasukkan penyampaian risalah dan penunaian amanah sebagai salah satu bentuk kemenangan; meskipun sang dai syahid atau komunitas muslim dihancurkan karena mempertahankan iman dan menyebarkan dakwah. Malazamul haq fi qulubina… selama kebenaran masih bersemayam di hati kita, itulah kemenangan.

Jamaah dakwah, apapun bentuknya; harakah, ormas, LSM ataupun partai Islam, dengan demikian perlu menyadari bahwa jalan dakwah tidaklah mudah dan tidak selalu berakhir dengan diraihnya kekuasaan Islam pada zaman atau generasinya. Namun selama hati ikhlas menempuh jalan-Nya, terus berjuang di atas manhaj-Nya dan berkomitmen dengan syariat-Nya, tak peduli apapun yang terjadi; sesungguhnya ia berada dalam kemenangan.

“Jalan dakwah tidak ditaburi bunga-bunga yang harum baunya,” nasehat Mustafa Masyhur dalam Fiqh Dakwah, “Tetapi merupakan jalan sukar dan panjang.” “Sebab antara yang haq dan yang bathil ada pertentangan nyata. Dakwah memerlukan kesabaran dan ketekunan memikul beban berat. Dakwah memerlukan kemurahan hati, pemberian dan pengorbanan tanpa mengharapkan hasil yang segera, tanpa putus asa dan putus harapan. Yang diperlukan adalah usaha dan kerja yang terus menerus dan hasilnya terserah kepada Allah, sesuai dengan waktu yang dikehendaki-Nya.”

Menyadari hakikat kemenangan dan tuntutannya, harakah Islam takkan terjebak pada sikap isti’jal; tidak sabar dengan jalan dakwah yang panjang lalu memutuskan untuk kudeta, membunuh penguasa muslim, atau bahkan melancarkan aksi-aksi terorisme.

Menyadari hakikat kemenangan dan tuntutannya, ormas Islam takkan terjebak pada kekhawatiran organisasi Islam lain lebih besar darinya, hasad dan memusuhi organisasi Islam yang lebih massif perkembangannya, atau bahkan menyediakan diri dikooptasi penguasa sekuler dengan menjadi alat politiknya.
Pun begitu, menyadari hakikat kemenangan dan tuntutannya, partai Islam takkan terjebak pada money politic dalam pemilu atau melakukan korupsi untuk menyediakan dana kampanye.

Sumber: fimadani.com

Adakah Al-Qur’an Dalam Hati Kita?

Jumat, 16 Desember 2011

dakwatuna.com - Rutinitas kerja dan kesibukan dunia yang tiada habisnya, sering menjadi penyebab dari hati yang kering, meranggas, dan gersang dari sumber mata air iman yang menyejukkan. Ibarat kafilah yang melintas di padang pasir dengan muatan harta yang berlimpah, ia menjadi tidak bernilai tatkala kehausan (dehidrasi) memenuhi sekujur raganya. Setetes air, yang tatkala dalam kondisi wajar harganya tiada seberapa, menjadi bernilai luar biasa dalam kondisi jiwa yang dirundung kegersangan tiada tara.

Itulah fitrah dari orang-orang beriman, yang senantiasa mendamba nilai-nilai yang mampu menyuburkan keimanannya. Itu pula yang dirasakan sekelompok Muslimah yang bekerja sebagai karyawati atau eksekutif di salah satu gedung perkantoran kawasan Thamrin, Jakarta Pusat. Di tengah kondisi berkecukupan karena manfaat (benefit) dari status karier yang dimilikinya, hati mereka sebenarnya tidak sepenuhnya tercukupi kebutuhannya. Jiwa mereka dahaga. Mereka mendamba keluasan hati laksana samudera, kesejukan jiwa laksana embun di pagi hari, dan kedamaian laksana bunyi debur ombak yang menentramkan jiwa.

Sebagai anggota komunitas yang menghuni kawasan perkantoran modern, para Muslimah itu tentu tidak ketinggalan informasi aktual khususnya menyangkut informasi keIslaman dan keimanan, baik berupa taujih, taushiyah, perenungan, tafakkur, atau kisah-kisah singkat yang sarat pesan dan inspirasi tentang bagaimana seharusnya mengelola kehidupan menuju ridha-Nya. Namun semua itu rasanya tiada cukup manakala mereka belum berinteraksi dan bersentuhan langsung dengan sumber penawar dahaga keimanan, yaitu Al-Quran.

Sudah masyhur di tengah perbincangan mereka bahwa bagi yang membaca Al-Qur’an, maka satu huruf yang dibacanya berbalas dengan sepuluh kebaikan. Dan bukanlah “Alif Lam Mim” itu satu huruf, akan tetapi “Alif” satu huruf, “Lam” satu huruf, dan “Mim” satu huruf. Luar biasa, dengan membaca “Alif Lam Mim” saja, pembaca Al-Qur’an sudah mendapatkan tiga puluh kebaikan. Subhanallah. Ketakjuban terasa memenuhi relung jiwa mereka. Ini baru membaca saja. Apatah lagi jika memahami isinya dan apatah lagi jika ayat-ayat itu diamalkan dalam kehidupan nyata. Tentu, pribadi-pribadi yang dihiasi dengan nilai Al-Qur’an akan memancarkan kedamaian dan kesejukan yang luar biasa. Jiwanya penuh kebaikan. Dan kebaikan itu tidak melahirkan apapun selain kebaikan yang berlipat.

Sungguh indah gambaran seorang pembaca Al-Qur’an, pohonnya bagus dan buahnya wangi. Itu adalah balasan Allah di dunia. Dan di akhirat Al-Qur’an akan memberikan syafaat bagi pembacanya sehingga ia terhindar dari jilatan api neraka yang menyala-nyala. Sekelompok Muslimah itu jelas tersentuh mendengar kabar gembira ini, dan motivasi untuk segera mewujudkannya semakin membesar dan menggelora di dada.

Langkah pertama yang dilakukan mereka adalah menghubungi guru tahsin Al-Quran di kawasan Bekasi. Mereka mengemukakan hasrat keinginan belajar baca Al-Qur’an kepada guru itu. Ada sedikit kegamangan dari para guru untuk memenuhi keinginan sekelompok Muslimah di gedung perkantoran itu karena lokasinya yang cukup jauh. Jika yang harus berangkat adalah seorang guru laki-laki, barangkali lokasi yang jauh tidak cukup bermasalah. Bagi guru Muslimah yang harus memfokuskan diri pada tugas-tugas kerumahtanggaan, hadir ke lokasi yang jauh cukup terasa memberatkan. Tidak sekedar dibutuhkan waktu dan energi yang cukup besar yang boleh jadi tidak sebanding dengan honor yang akan diterima, guru Muslimah itu boleh jadi lebih nyaman mengajar di lingkungan sekitar tempat tinggalnya, sehingga masih bisa memantau keadaan anak-anak yang diasuhnya.

Syukurlah, ada seorang guru yang menaruh perhatian kepada mereka. Bagi sang guru itu, keinginan belajar dari sekelompok Muslimah di perkantoran itu ibarat benih yang harus dipelihara dan disediakan media pertumbuhannya. Alangkah sayangnya jika benih itu dibiarkan mati sebelum ditanam. Dakwah harus ditegakkan. Dakwah yang sejatinya adalah menumbuhsuburkan kebaikan, baik pada diri sendiri maupun orang lain, memang membutuhkan pengorbanan yang tiada kecil dari para pelakunya.
Langkah kedua setelah mereka mengetahui bahwa keinginan mereka bakal terwujud, mereka segera berkoordinasi menyediakan waktu luang dan menyediakan tempat yang memadai untuk belajar baca Al-Qur’an. Mereka berpatungan untuk mendukung operasional kegiatan. Layaknya organisasi mereka membentuk ketua, bendahara, dan sekretaris. Pengetahuan organisasi yang mereka miliki, mereka terapkan guna kelancaran dan keberhasilan proses belajar dan mengajar.

***

Tidak semua upaya yang dilakukan oleh beberapa kelompok Muslimah untuk menghadirkan guru tahsin menemukan kemudahannya. Bagi sekelompok Muslimah di perkantoran itu, bisa mendatangkan seorang guru untuk hadir ke kantor menyambangi mereka adalah satu hal yang patut disyukuri. Pertama, pertimbangannya tentu karena untuk datang sendiri-sendiri ke lembaga tahsin pada hari Sabtu atau Ahad, bagi mereka adalah suatu pekerjaan yang teramat berat karena mereka merasa harus siaga di rumah mendampingi suami dan anak-anak, sebagai kompensasi ketidakhadiran mereka pada hari-hari lainnya akibat bekerja di kantor.
Kedua, mereka menemukan guru yang mau membimbing mereka karena dorongan kecintaan untuk menyebarkan nilai-nilai Qur’an. Meski dirasakan cukup berat, Sang guru itu berkomitmen melangkahkan kaki ke gedung perkantoran guna mengajari ibu-ibu dan para Muslimah yang dahaga dengan bacaan Al-Qur’an. Kadang untuk pergi ke sana, sang guru tidak segan menumpang taksi untuk mengejar ketepatan waktu pembelajaran. Terkadang pula, sang guru harus berhimpit-himpitan beberapa kali naik moda transportasi, menahan lelah akibat mengurus anak-anak sebelumnya dan berjuang melawan asap rokok dan debu-debu yang beterbangan di sekelilingnya. Ya, kondisi badannya memang rentan. Tetapi kecintaan kepada ibu-ibu dan kaum Muslimah yang mendamba oase iman dari lautan kalam Ilahi itu, menjadikannya harus melupakan kondisi berat yang kadang dijumpainya.

Ketiga, mereka mendapatkan guru bukan sembarang guru. Tetapi guru dari lembaga tahsin tepercaya, yang telah memiliki kurikulum baku dalam pengajaran baca Al-Qur’annya.
Menyadari keberuntungan-keberuntungan itu, mereka pun berlatih dengan keras dan berdisiplin. Alhamdulillah, dalam jangka waktu tidak lama, mereka pun mampu membaca Al-Quran secara baik.

***

Sebagian besar ummat Islam saat ini, tidak dipungkiri, memiliki tingkat kedekatan yang rendah dengan Al-Qur’an. Jangankan berbicara masalah penerapan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan, pemahaman akan isi dan kandungan Al-Qur’an sebagian besar ummat Islam pun masih terasa sangat kurang. Terbukti makin merebaknya aliran-aliran sesat yang menyusup di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
Terlepas apakah merebaknya aliran sesat itu adalah wujud konspirasi atau bukan, seharusnya fenomena-fenomena itu menyadarkan seorang Muslim untuk lebih dekat kepada sumber agamanya. Salah satunya dengan belajar dan berlatih berinteraksi lebih dekat dengan Al-Qur’an, yang dimulai dengan interaksi dengan cara belajar membacanya.

Betapa banyak orang mengaku tidak bisa membaca Al-Qur’an, tetapi tidak banyak yang menindaklanjuti dengan membentuk kelas pengajaran seperti dilakukan oleh para Muslimah di perkantoran itu. Betapa banyak orang yang mengaku dahaga dan jiwanya kering, tetapi mereka malah hanyut dengan lagu-lagu “ruhani”, bukan berinteraksi sedekat-dekatnya dengan Al-Qur’an penyubur jiwa.

Tidak semua orang bisa peduli dengan Al-Qur’an, padahal Al-Qur’an adalah salah satu pusaka (selain Al-Hadits) yang mampu menyelamatkan kehidupan manusia, baik di dunia ini maupun sesudahnya, dari malapetaka dan mara bahaya. Tidak semua orang bisa menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an di relung jiwa. Hanya mereka yang berhati bersih dan ikhlas saja lah yang mampu melakukannya.
Ada baiknya setiap hamba bertanya kepada diri masing-masing “sudah adakah Al-Qur’an dalam hatiku?” Ya, sebab jika bukan Al-Qur’an yang ada dalam hati, berarti ada nilai-nilai non-qur’ani yang bersarang dan mendominasi jiwa, yang boleh jadi bukan menuntun akan tetapi menyesatkan sang hamba dari jalan kebenaran.

Nampaknya, kita perlu belajar dari kaum Muslimah dalam kisah tersebut yang berusaha memenuhi relung jiwanya dengan Al-Qur’an. Meski baru hendak belajar membacanya, hal Itu adalah awal mula yang sangat baik, sebab hanya dengan belajar kesuksesan dunia atau akhirat pun bisa diraih dan dikejar.
Waalahua’lamu bishshawaab.

Mabit: Meneladani Semangat Dakwah Salafus Sholih

Minggu, 11 Desember 2011

Kota Lawang- Mabit yang diadakan oleh struktur WILDA 2 (kec. Lawang, kec. Singosari dan kec. Pakis) tadi malam serasa istimewa karena bersamaan dengan peristiwa gerhana bulan. Diperkirakan gerhana terjadi sekitar pukul 21:30 wib. Acara dibuka dengan kajian Islam oleh Ustadz Tahmid, Lc tentang Dakwah dan Keutamaannya. Tepat jam 21:30, selepas kajian para peserta diajak sholat khusuf berjamaah. Dalam khotbahnya ustadz Tahmid menyampaikan pentingnya memahami urgensi dari peristiwa gerhana bulan. "Gerhana bulan merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah swt dan peristiwa ini bukan sebagai tanda akan kematian seseorang. Hal ini patut diluruskan karena tidak sedikit masyarakat muslim mempercayai hal yang salah ini." jelas ustadz muda ini.

Berbicara tentang dakwah tidak akan lepas dengan peran kita sebagai da'i. Tugas utama da'i adalah berdakwah menyampaikan ajaran Islam kepada manusia mengajak kepada kebaikan dan meninggalkan keburukan. Menyeru kepada tauhid dan mengingkari taghut. Sungguh mulia tugas seorang da'i sampai-sampai Rasulullah bersabda "Sesungguhnya para malaikat, serta semua penduduk langit-langit dan bumi, sampai semut-semut di sarangnya, mereka semua bershalawat (mendoakan dan memintakan ampun) atas orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Tirmidzi). 

Juga dikuatkan dengan hadits lain “Barangsiapa yang mengajak menuju hidayah maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tapi tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala-pahala mereka. Barangsiapa yang mengajak menuju kesesatan maka dia mendapatkan dosa seperti doa orang-orang yang mengikutinya, tapi tanpa mengurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka.” (HR. Muslim)

Di akhir materi, beliau menyampaikan lima catatan tentang dakwah, yaitu:

1. Waktu berdakwah seorang da'i jangan di waktu sisa. Justru dalam 24 jam waktu kita di dalamnya harus senantiasa dihiasi dengan ajakan kebaikan sekalipun pada saat kita kerja.

2. Tugas dakwah sudah menjadi kewajiban setiap kita seorang muslim. Jadi tidak ada alasan menunggu jadi ustadz/kyai baru berdakwah

3. Seorang da'i tidak boleh berputus asa meskipun sedikit pengikutnya. Mari kita belajar dari pengalaman para nabi terdahulu. Ambil contoh, nabi Nuh as telah berdakwah sekitar 950 tahun namun pengikutnya hanya sekitar 50 - 100 orang saja. Allah melihatnya bukan pada hasil tetapi pada proses.

4. Balasan seorang Da'i hanyalah dari Allah swt. Jangan sekali-kali mengharap balasan dari sesama berupa jabatan, kehormatan ataupun status sosial

5. Dakwah dengan perbuatan lebih mengena daripada sekedar menyeru dengan perkataan

Ustadz Tahmid, Lc


Mudah-mudahan materi kajian ini mampu meluruskan niatan kita yang mungkin saja mengalami penyimpangan. Mari segera kita luruskan dan keep istiqomah. Allahu Akbar!

Penyakit Itu Bernama Ujub

Jumat, 25 November 2011



dakwatuna.com - Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menasihati panglima Khalid bin Walid justru telah menang perang gilang gemilang di Irak, “Semoga Allah mengaruniakan kepadamu kelurusan niat dan kedudukan yang tinggi. Sempurnakanlah amalmu, maka Allah akan menyempurnakanmu. Janganlah kamu terkena penyakit ujub, karena hal itu akan membuatmu merugi dan terhina. Jauhilah olehmu sifat unjuk dan pamer atas suatu perbuatan, karena sesungguhnya hanya Allah-lah sang Pemberi anugerah dan kemuliaan, Dialah yang maha Pembalas…(Tarikh al-Tabri, dari buku Hambatan-hambatan dakwah, dikutip dari buku new Quantum Tarbiyah)
Subhanallah, Allah masih memberikan pelajaran-pelajaran yang luar biasa dari orang-orang yang luar biasa seperti Khalifah Abu Bakar dan Khalid bin Walid dalam riwayat di atas. Sungguh ini tidak berlaku pada Khalid bin Walid saja yang baru saja menang dalam pertempuran di Iraq tapi, untuk kita semua para generasi selanjutnya dalam estafet perjuangan dakwah Islam ini. Sebenarnya ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil dari riwayat ini. Dan ini menurut saya ya…, kalau mau ditambahin silakan saja.. saya ndak marah kok..
Pelajaran pertama: Abu Bakar sebagai Khalifah memerankan perannya sebagai the real khalifah.. menasihati bawahannya untuk berlaku zuhud dan tidak berlebihan dalam euphoria kemenangan yang sesungguhnya ini adalah kemenangan yang diberikan Allah. Dan ini adalah tindakan yang luar biasa..
Pelajaran kedua: Abu Bakar ‘mendoakan’ Khalid bin Walid agar senantiasa Allah mengaruniakan kelurusan niat dan kedudukan tinggi kepada Khalid bin Walid. Kelurusan niat dalam beramal dan berdakwah adalah syarat mutlak untuk diperbuat terlebih dahulu. Karena amal tanpa niat yang ikhlas hanyalah seperti mangkuk telungkup yang diisi air. Mangkuk itu tak akan pernah terisi air. dalam kata lain perbuatan yang sia-sia, tidak ada pahalanya…ketika kita sudah memiliki niat yang ikhlas dalam “Menolong” agama Allah, maka yang kemudian terjadi adalah kedudukan tinggi pun akan diberikan oleh Allah. Seperti yang Allah firmankan dalam QS. Muhammad: 7
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolongmu, dan meneguhkan kedudukanmu.”
Pelajaran ketiga: kata-kata “Sempurnakanlah amalmu, maka Allah akan menyempurnakanmu. Janganlah kamu terkena penyakit ujub, karena hal itu akan membuatmu merugi dan terhina” yah.. dengan menyempurnakan amal maka Allah akan menyempurnakannya. Menyempurnakan amal dalam segala amal adalah sebuah keharusan. Karena sempurna itu indah dan Allah menyukai keindahan. Semisal ketika shalat, rukun-rukunnya dilakukan dengan sempurna, dari awal sampai akhir dan juga khusyu’ dalam shalat adalah penyempurna amal shalat. Begitu juga dengan amal-amal lain. Ketika semua amal itu dikerjakan dengan sungguh-sungguh termasuk hal-hal yang mendukung kesempurnaan amal tersebut maka Allah akan menyempurnakannya.
Pelajaran keempat: “sesungguhnya hanya Allah-lah sang Pemberi anugerah dan kemuliaan” hanya Allah lah saja pemberi kemenangan. Jadi kalau mau menang dan mulia, maka mintanya kepada Allah bukan kepada yang lain. Semisal pada saat pilkada, sebuah partai ingin menang tentunya dengan ikhtiar harus diiringi dengan kedekatan dan minta ampun dan kemenangan kepada Allah agar diberikan keadilan dalam prosesnya dan Kesejahteraan sesudahnya, tentunya kemenangan telah diraih . Allah pemilik segala kemenangan dan pemilik takdir, maka mintalah takdir yang baik kepada Allah menurut Allah tentunya. Karena baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah, and otherwise… ketika kalah jangan berkecil hati dan marah, coba cek, apakah ada kekurangan dalam ikhtiar atau bahkan kita belum dekat kepada Allah, kurang doa kepada Allah, amalan yaumi kita kurang dan belum sempurna. Cek diri dulu itu inspirasinya. Dan mungkin belum waktunya. Bukan menang atau kalah yang jadi persoalan, yang menjadi persoalan adalah sejauh mana kesandaran kita kepada Allah ketika menang ataupun kalah.
Pelajaran kelima: seorang diri Khalid bin Walid yang tidak marah ketika diberi nasihat seperti itu, dan menerima nasihat itu dengan lapang dada, dan dijadikannya sebagai tadzkirah (peringatan). Di sini terlihat bahwa Khalid bin Walid yang patuh kepada qawamnya. Dan nasihat ini menjadikan daya dorong lagi dari seorang Khalid dalam beramal setelahnya. Akan selalu meluruskan niat, menyempurnakan amal, dan tidak bersikap ujub, serta menyerahkan semuanya kepada Allah karena Allah lah yang tahu kapan kemenangan itu akan diberikan..
Yah.. semoga kelima pelajaran ini dapat kita pelajari. Sehingga kita menjadi muslim yang penuh keoptimisan dalam beramal. Tak ragu sedikitpun. Berani berjuang. Karena Allah maha Melihat apa-apa yang kita kerjakan. Dan Allah juga Sang Maha Pembalas terhadap amal-amal yang perbuat di dunia ini.
Dan semoga Allah mengaruniakan kita kelurusan niat dan kedudukan tinggi..  Seperti doanya Khalifah Abu Bakar kepada Khalid bin Walid. Insya Allah..
Wallahu’alam

Agar Do'a Terkabulkan

Sabtu, 12 November 2011

Oleh: H. Muhammad Widus Sempo, MA

dakwatuna.com - Doa peneduh jiwa yang sedang terbalut oleh kalut, sedih dan gundah. Ia memberi ruang tersendiri bagi mereka yang ingin mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta. Akan tetapi, kadang kita mengira sesuatu yang dipanjatkan itu belum juga terpenuhi, sehingga dengan sendirinya hati pun bertanya-tanya dan berkata:
“Kenapa yah, doa-doaku tidak terkabulkan? Apa yang salah dalam diri ini? Bukankah aku telah menunjukkan kehambaanku kepada-Nya dengan doa-doa itu?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini telah dijawab dengan jelas kedua ayat berikut ini:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ ﴿٥٥﴾ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ ﴿٥٦﴾

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”  (QS. Al-A’raf [7]: 55-56)

Hemat penulis, doa yang terkabulkan adalah doa yang mematuhi adab doa yang dijelaskan ayat di atas. Adab-adab tersebut dapat diuraikan sebagaimana berikut:

Adab pertama: Berdoa dengan penuh rendah diri dan suara lemah lembut
Para pakar tafsir berbeda dalam memaknai kata (التَّضّرُّعُ). Imam Ibn Jarir at-Thabari cenderung menafsirkannya dengan makna rendah diri, merasa hina, dan berupaya menghadirkan kedamaian hati di setiap doa.[[1]]. Penalaran ini disepakati kebanyakan penafsir yang datang setelahnya, seperti: al-Allâma Abu Hayyân, dan al-Hâfidzh Ibn Katsîr.[[2]]. Di lain pihak, al-Qâdhi Ibn Atiyyah menafsirkannya dengan doa yang terdengar jelas. Beliau berkata:
“Kata at-Tadarru’ (التَّضّرُّعُ) menghendaki kejelasan suara, karena kata itu sendiri tidak dipergunakan kecuali pada permintaan yang disertai dengan pelbagai isyarat dan gerakan tubuh.” [[3]]. Pemaknaan ini dilegitimasi al-Allâma Muhammad Thâhir bin Asyûr dalam pernyataannya berikut ini:
“(التَّضَرُّعُ) artinya: menunjukkan kerendahan diri dengan perihal tertentu. Olehnya itu (التَّضَرُّعُ) adalah doa yang disertai dengan suara yang jelas. Inilah penafsiran yang kami pilih karena menunjukkan keserasian makna (antonim) antara kata tersebut dengan kata (الحَفِيَّة), yang artinya: berdoa dengan suara yang lemah lembut. Olehnya itu, kata penghubung (الواو) huruf (Waw) yang sering kali diartikan dengan makna (dan), di sini ia berfungsi seperti (أَوْ) huruf (Aw), yang berarti atau. Artinya: Anda boleh memanjatkan doa dengan suara yang terdengar jelas atau dengan suara yang lemah lembut (tidak ada yang mendengarkannya kecuali Anda sendiri).”[[4]]

Hemat penulis, kata (التَّضَرُّعُ) meliputi kedua pemaknaan itu. Al-Qur’an sengaja menempatkan kata tersebut untuk menyuguhkan makna ini:

“Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Berdoalah dengan penuh kerendahan diri dan kekhusyukan, baik di waktu berdoa dengan suara yang jelas, atau dengan suara yang lemah lembut.”
Hal ini dipertegas oleh kesimpulan Ustadz Muhammad Râsyîd Ridhâ di bawah ini:
“Kedua bentuk doa itu punya waktu tersendiri. At-Tadarru’ dengan suara yang jelas bagus dan tepat di waktu menyendiri, aman dari penglihatan orang lain, sehingga mereka tidak merasa terusik dengan suara itu, dan perhatian orang yang berdoa tidak disibukkan dengan mereka dari konsentrasi membujur kepada Allah SWT, serta doanya tidak rusak dengan ria dan ujub.
Sementara itu, At-Tadarru’ dengan lemah lembut (yang hanya didengar olehnya sendiri) baik dan tepat di tempat terbuka, atau saat berada di khalayak ramai, seperti: Masjid dan di tempat yang menghidupkan syiar-syiar agama, kecuali pada waktu yang dibolehkan mengangkat suara, seperti: talbiyah di haji, takbir di kedua shalat Id. Itu boleh karena pelaksanaan ibadah-ibadah seperti ini dikerjakan secara saksama dan jauh dari puji diri.” [[5]]

Olehnya itu, ayat ini ditutup dengan firman-Nya:
(إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ المُعْتَدِيْن)
Maksudnya, dalam kondisi bagaimanapun, Anda tidak dibolehkan melampaui batas yang wajar dalam berdoa. Di antara hal yang tidak diperbolehkan dalam berdoa telah dicontohkan alQâdhi Ibn Atiyyah berikut ini:

“Kalimat tersebut meskipun maknanya umum, tetapi karena ia dalam konteks doa, maka ia mengisyaratkan hal-hal yang tidak boleh dilakukan dalam berdoa. Di antara hal tersebut, seperti: berteriak-teriak meminta. Ini telah diperingatkan Rasul Saw kepada kaum yang terlalu membesarkan suara pada saat takbir, beliau bersabda: (Wahai manusia, rendahkanlah suaramu, sesungguhnya engkau tidak berdoa kepada yang tuli, atau kepada yang gaib).[[6]]Dan yang lainnya lagi, seperti: meminta kedudukan yang sederajat dengan nabi, atau meminta sesuatu yang mustahil terjadi, serta berdoa melakukan kemaksiatan.”[[7]]
Kata (المُعْتَديْن) yang melampaui batas dapat juga menjadi teguran terhadap mereka yang memahami bahwa doa itu tidak lain kecuali sarana memenuhi segala keinginan. Telaah mendalam seperti ini telah diperlihatkan Syekh Mutawalli as-Sya’râwî berikut ini:
“Hindarkan diri Anda untuk tidak berdoa kecuali ingin memenuhi hajat semata!
Yang wajib Anda lakukan berdoa dengan memperlihatkan kepada-Nya kerendahan diri, kehinaan dan kekhusyukan, karena seandainya saja Anda tidak berdoa, maka segala urusan Anda terjadi sesuai dengan garis ketentuan ilahi. Jangan pernah mengira bahwa Anda berdoa supaya terwujud harapan-harapan Anda, karena Allah SWT Maha Suci untuk Anda jadikan sebagai pegawai Anda. Inilah aturan baku yang Allah tetapkan dalam memenuhi tuntutan-tuntutan Anda sekalian.”[
[8]]

Hematnya, tujuan doa memperlihatkan kehambaan kita kepada Allah SWT, diterima atau tidaknya doa tersebut itu permasalahan kedua. Karena jika ia terkabulkan, maka itu adalah karunia-Nya, dan jika tidak terkabulkan itu pun karunia-Nya. Di sana ada kemaslahatan di balik penerimaan, penolakan, dan penundaan dari terkabulkannya doa yang jauh dari pengetahuan manusia sendiri.

Adab kedua: Jangan melakukan kerusakan di bumi!
Al-Qâdhi Ibn Atiyyah berkata:
“Firman-Nya:  (وَلاَ تُفْسِدُوْا فِي الأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا)cakupannya sangat umum, meliputi segala bentuk kerusakan, baik yang besar atau kecil, setelah adanya perbaikan. Olehnya itu, tujuan pelarangan tersebut bersifat umum, dan tidak boleh dijustifikasi buta terhadap satu jenis kerusakan, karena hukum seperti ini menyalahi seruan tersebut.”[[9]]
Di antara bentuk kerusakan yang sering dipaparkan Al-Qur’an dalam konteks doa, perilaku sebagian kelompok yang kembali kepada kesesatan setelah doanya terkabulkan dari sebuah bencana dan kesulitan. Ini tercatat dengan begitu apik di ayat-ayat berikut ini:
­Ayat pertama: “Dan ketika mereka ditimpa azab mereka pun berkata: (Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhamnu dengan kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat mengangkat azab itu dari kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu). Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya.” (QS. Al-A’raf [7]: 134-135]
Di ayat lain firman-Nya: “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus [10]: 12)
Hemat penulis, telah jelas bahwa faedah doa bukan hanya terbatas dari hajat yang terpenuhi seketika itu, tetapi bagaimana menjaga kemurahan dan karunia Allah tersebut supaya tidak pergi dengan sendirinya. Tentunya, tidak ada cara lain untuk menjaganya kecuali tetap berada di jalan Allah. Apalah artinya doa yang terkabulkan pada suatu waktu, tetapi di waktu-waktu lain kita kembali terjerumus dalam kemungkaran dan kemaksiatan. Faedah doa bukan hanya ingin dilihat hari ini dan esok, tetapi faedahnya ingin dipetik di akhirat. Doa yang berkah doa yang senantiasa mengatakan seperti ini:
“Wahai diriku yang terkabulkan doanya! Aku sebenarnya enggan menyuguhkan kenikmatan ini jika di lain hari engkau kembali mengingkari Tuhanmu. Jagalah nikmat ini dengan tidak kembali menengok dunia hitam, apalagi jatuh di lembah kemaksiatan! Aku ingin senantiasa dipetik hari ini, esok dan di akhirat, bukan hanya sehari, kemudian melupakan Sang Maha Pemberi yang telah menjadikan aku fasilitas gratis guna mendekatkan dirimu kepada-Nya.”

Adab ketiga dan keempat: takut doa tidak diterima dan berharap penuh dikabulkan
Makna ini dijustifikasi Syekh al-Alûsî sebagai makna yang banyak dipilih oleh pakar tafsir. Beliau berkata:
“Firman-Nya: (ادْعُوْهُ خَوْفًا وَطَمَعًا) artinya: berdoalah dengan penuh rasa takut dari doa yang tidak mustajab karena ketidaklayakan Anda untuk menjadi orang-orang yang doanya mustajab, dan jangan pernah putus asa untuk senantiasa berharap penuh terhadap jawaban-Nya sebagai karunia untukmu dari-Nya. Inilah pilihan kebanyakan mufassir.”[[10]]
Di lain sisi, Syekh Mutawalli as-Sya’rawî memaparkan makna yang cukup luas, beliau berkata:
“Di sini Al-Qur’an menjelaskan adab lain berdoa, yaitu: (ادْعُوْهُ خَوْفًا وَطَمَعًا) artinya: takutlah dari segala bentuk manifestasi nama-Nya (القَهَّارُ)  yang Maha Menaklukkan, dan berharaplah dengan segenap harapan dari segala bentuk manifestasi nama-Nya (الغَفَّارُ) yang Maha Pengampun, dan (الرَّحِيْمُ)  yang Maha Pengasih. Berdoalah dengan penuh rasa takut dari segala bentuk ketergantungan sifat keperkasaan-Nya, dan berharaplah mendapatkan karunia dari segala bentuk ketergantungan sifat keindahan dan kemurahan-Nya.” [[11]]
Hemat penulis, kedua teks tersebut saling melengkapi dalam memberikan sebuah pemaknaan. Karena jika doa terkabulkan, maka segala aneka karunia dan kenikmatan yang ada di khazanah sifat-sifat keindahan dan kemurahan-Nya tercurahkan dengan sendirinya melebihi volume curah hujan. Akan tetapi, jika doa tidak terkabulkan, maka dengan sendirinya pula turun azab yang datang dari keperkasaan dan keagungan-Nya.
Olehnya itu, kedua kelompok kata yang ada pada ayat itu mustahil dipisahkan, demi terciptanya pemaknaan yang apik dan sempurna. Maha Suci Allah yang telah memilih kosa kata Al-Qur’an dan menempatkannya di tempat yang layak untuknya, pemilihan dan penempatan yang jauh dari kesanggupan para ahli bahasa.
Di penghujung tulisan singkat ini, saya yakin pemerhati tema-tema keislaman dengan mudah menyimpulkan apa yang ada di atas dan berkata:
“Doa adalah otak ibadah, tetapi tidak semua doa punya ketinggian derajat seperti itu. Doa yang sampai ke derajat itu adalah doa yang mustajab. Doa mustajab doa yang dipanjatkan dengan penuh rendah diri dan khusyuk, takut tidak diterima serta berharap penuh dikabulkan. Doa mustajab itu bukan hanya hasilnya dipetik hari ini. Akan tetapi ia senantiasa dipetik hari ini, esok dan di akhirat. Carilah dengan doa karunia dan kenikmatan-Nya yang ada pada khazanah sifat keindahan dan kemurahan-Nya, dan hindari dengan doa pula azab-Nya yang ada pada sifat keperkasaan-Nya!”

KIPRAH DPC

NASIONAL

DUNIA PKS

 

© Copyright DPC PKS Lawang 2010 -2011 | Redesign by PKS Lawang | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.